Laporan APBN hingga akhir September 2026 tidak hanya mencatat defisit Rp319 triliun. Dua angka lain juga penting: pembiayaan utang sebesar Rp494,3 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang melonjak 41,7% menjadi Rp492,3 triliun.

Gambaran APBN hingga September 2026
| Pos | Realisasi | Keterangan |
|---|---|---|
| Pendapatan negara | Rp2.341,5 triliun | 74,2% dari target |
| • Penerimaan pajak | Rp1.607,6 triliun | tumbuh 24,1% |
| • Kepabeanan dan cukai | Rp240,1 triliun | tumbuh 8,5% |
| • PNBP | Rp492,3 triliun | tumbuh 41,7% |
| Belanja negara | Rp2.660,5 triliun | tumbuh 19% |
| Defisit | Rp319 triliun | sekitar 1,2% PDB |
| Pembiayaan utang | Rp494,3 triliun | 59,4% dari target |
Rincian penerimaan pajak dibahas di penerimaan pajak hingga September 2026.
Mengapa Pembiayaan Utang Lebih Besar dari Defisit?
Pembiayaan utang Rp494,3 triliun lebih besar dari defisit Rp319 triliun. Selisihnya sekitar Rp175 triliun. Hal ini wajar karena pemerintah biasanya:
- Menarik pembiayaan lebih awal (prefunding) untuk berjaga-jaga saat kondisi pasar sedang baik.
- Menyimpan kas untuk kebutuhan belanja yang menumpuk di akhir tahun.
- Membiayai pos pembiayaan lain, seperti investasi pemerintah.
Cara membaca hubungan pendapatan, belanja, defisit, dan pembiayaan dijelaskan di cara membaca postur APBN.
Apa Itu PNBP?
PNBP adalah penerimaan negara di luar pajak, misalnya:
- Penerimaan sumber daya alam, seperti minyak, gas, dan mineral.
- Pendapatan dari kekayaan negara yang dipisahkan, seperti dividen BUMN.
- Pendapatan layanan pemerintah, seperti paspor dan perizinan.
- Pendapatan Badan Layanan Umum.
Lonjakan 41,7% terjadi di tengah harga minyak yang tinggi. Harga minyak yang tinggi menaikkan PNBP migas, tetapi juga menambah beban subsidi dan kompensasi energi. Sementara itu, dividen BUMN yang dikelola Danantara tidak disetor ke APBN, seperti dijelaskan di dividen BUMN di Danantara.
Kementerian Keuangan: Masih Sesuai Rencana
Kementerian Keuangan menyatakan defisit hingga September masih sesuai rencana karena APBN 2026 sejak awal dirancang defisit. Defisit dibatasi maksimal 3% dari PDB sesuai undang-undang, sebagaimana dijelaskan di apa itu defisit APBN.
Yang Perlu Dipantau di Kuartal IV
- Belanja menumpuk: sisa pagu belanja masih lebih dari Rp1.100 triliun.
- Biaya utang naik: yield SBN 10 tahun bertahan di atas 7% dan rupiah melemah ke sekitar Rp18.144 per dolar AS.
- Harga minyak: menentukan keseimbangan antara PNBP migas dan beban subsidi.
Laporan APBN bulanan tersedia di situs Kementerian Keuangan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa pembiayaan utang APBN hingga September 2026?
Pembiayaan utang hingga September 2026 mencapai Rp494,3 triliun atau 59,4% dari target APBN 2026.
Mengapa pembiayaan utang lebih besar dari defisit?
Pemerintah biasanya menarik pembiayaan lebih awal untuk berjaga-jaga, menyimpan kas untuk belanja akhir tahun, dan membiayai pos pembiayaan lain seperti investasi pemerintah.
Berapa PNBP hingga September 2026?
PNBP hingga September 2026 mencapai Rp492,3 triliun, tumbuh 41,7% dibanding periode yang sama tahun lalu.
