Obligasi adalah surat utang. Penerbitnya, misalnya pemerintah atau perusahaan, meminjam dana dari investor dan berjanji membayar kupon (bunga) secara berkala serta mengembalikan pokok saat jatuh tempo.
Yield adalah imbal hasil yang diperoleh investor dari obligasi, dengan memperhitungkan harga beli obligasi tersebut.
Kupon vs Yield
- Kupon ditetapkan saat obligasi diterbitkan dan biasanya tetap. Contoh: obligasi nominal Rp1.000.000 dengan kupon 7% per tahun membayar Rp70.000 per tahun.
- Yield bisa berubah setiap hari karena harga obligasi di pasar berubah.

Mengapa Harga dan Yield Berlawanan Arah?
Bayangkan Anda memegang obligasi dengan kupon tetap 7%. Lalu suku bunga pasar naik, dan obligasi baru menawarkan kupon 8%.
Investor tentu lebih memilih obligasi baru. Agar obligasi lama Anda tetap laku, Anda harus menjualnya lebih murah. Dengan harga lebih murah, imbal hasil efektif bagi pembeli menjadi lebih tinggi, mendekati 8%.
Jadi: suku bunga pasar naik โ harga obligasi lama turun โ yield naik. Begitu pula sebaliknya.
Contoh Perhitungan Sederhana
Obligasi nominal Rp1.000.000 dengan kupon 7% (Rp70.000 per tahun).
Current yield = Kupon tahunan รท Harga pasar
| Harga pasar | Current yield |
|---|---|
| Rp1.000.000 (100%) | 7,0% |
| Rp950.000 (95%) | 7,4% |
| Rp1.050.000 (105%) | 6,7% |
Dalam praktik, investor profesional menggunakan yield to maturity (YTM), yang juga memperhitungkan selisih harga beli dengan pokok yang diterima saat jatuh tempo serta waktu tersisa.
Faktor yang Menggerakkan Yield SBN
- Suku bunga acuan Bank Indonesia. Lihat apa itu BI-Rate.
- Inflasi. Inflasi tinggi menggerus nilai riil kupon, sehingga investor meminta yield lebih tinggi.
- Yield obligasi AS. Saat yield US Treasury naik di atas 5%, yield SBN cenderung ikut naik agar tetap menarik.
- Persepsi risiko dan arus dana asing, termasuk sentimen pasar saham dan kebijakan fiskal.
- Kebutuhan pembiayaan APBN. Semakin besar penerbitan, semakin besar pasokan obligasi.
Kondisi terkini dibahas di yield SBN 10 tahun di atas 7%.
Apa Artinya bagi Investor Ritel?
- Jika menahan hingga jatuh tempo, perubahan harga di tengah jalan tidak berpengaruh; Anda tetap menerima kupon dan pokok penuh.
- Jika ingin menjual sebelum jatuh tempo, kenaikan yield bisa membuat Anda menjual di bawah harga beli.
- Saat yield tinggi, membeli obligasi baru atau SBN ritel seri baru bisa memberikan kupon lebih besar. Perbandingan jenis SBN ritel ada di ORI, SR, SBR, dan ST.
Data yield SBN dan jadwal lelang dapat dilihat di DJPPR Kementerian Keuangan.
Artikel ini bersifat edukasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual efek. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu yield obligasi?
Yield obligasi adalah imbal hasil yang diperoleh investor dengan memperhitungkan kupon dan harga beli obligasi di pasar.
Kenapa harga obligasi turun saat yield naik?
Karena kupon obligasi lama tetap, saat suku bunga pasar naik obligasi lama harus dijual lebih murah agar imbal hasilnya setara dengan obligasi baru.
Apakah kenaikan yield merugikan pemegang obligasi?
Hanya jika obligasi dijual sebelum jatuh tempo. Jika ditahan hingga jatuh tempo, investor tetap menerima kupon dan pokok penuh.
