Rupiah menguat 0,04% ke Rp16.870 per dolar AS pagi ini. Meski naik tipis, tekanan dolar AS akibat sikap hawkish The Fed masih membayangi pasar dan kurs rupiah.
MonetaPost – Nilai tukar rupiah dibuka menguat ke level Rp16.870 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu pagi. Mata uang Garuda mencatat penguatan sebesar 7 poin atau sekitar 0,04 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya. Meski menguat tipis, pergerakan rupiah masih berada dalam tekanan eksternal yang cukup kuat, terutama dari arah penguatan dolar AS di pasar global.
Penguatan rupiah pagi ini terjadi di tengah dinamika pasar keuangan global yang masih diwarnai ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Investor global terus mencermati arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve yang dinilai masih cenderung ketat.
Pergerakan Rupiah di Tengah Tekanan Global
Secara umum, penguatan rupiah pagi ini belum mencerminkan perubahan tren yang signifikan. Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah cenderung bergerak melemah dan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Kondisi ini membuat pasar semakin sensitif terhadap sentimen global.
Analis menilai bahwa penguatan tipis ini lebih bersifat teknikal dibandingkan didorong oleh sentimen fundamental yang kuat dari dalam negeri. Permintaan dolar AS masih tinggi seiring meningkatnya kehati-hatian investor global.
Mayoritas Mata Uang Asia Melemah
Tekanan Regional Masih Terasa
Pergerakan rupiah terjadi di tengah mayoritas mata uang Asia yang justru berada di zona pelemahan. Dolar Singapura tercatat melemah paling dalam dengan penurunan sekitar 0,6 persen. Peso Filipina juga mengalami pelemahan sebesar 0,14 persen, sementara ringgit Malaysia turun 0,09 persen.
Won Korea Selatan melemah sekitar 0,07 persen, yen Jepang turun 0,14 persen, dan baht Thailand terkoreksi tipis sebesar 0,03 persen. Pelemahan mata uang Asia ini mencerminkan masih kuatnya dominasi dolar AS di pasar global.
Tekanan tersebut umumnya berasal dari arus modal yang cenderung kembali ke aset berdenominasi dolar AS, terutama di tengah ketidakpastian arah suku bunga global.
Pergerakan Mata Uang Negara Maju Bervariasi
Dolar AS Tetap Jadi Acuan Utama
Di sisi lain, mata uang negara maju menunjukkan pergerakan yang beragam. Poundsterling Inggris tercatat menguat tipis sekitar 0,01 persen, sementara euro Eropa melemah 0,03 persen. Franc Swiss juga mengalami pelemahan sebesar 0,06 persen.
Dolar Kanada justru menguat cukup signifikan sebesar 0,24 persen, seiring pergerakan harga komoditas yang mendukung mata uang tersebut. Dolar Australia juga menguat sekitar 0,25 persen, didorong oleh sentimen positif dari sektor komoditas dan ekspektasi kebijakan domestik.
Variasi pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih sangat selektif dalam merespons data ekonomi dan pernyataan pejabat bank sentral di masing-masing negara.
Pengaruh Sikap Hawkish The Fed
Dolar AS Kembali Menguat
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa meskipun rupiah menguat tipis, tekanan terhadap mata uang domestik masih cukup besar. Menurutnya, dolar AS kembali menguat setelah sempat terkoreksi akibat data inflasi AS yang sedikit lebih lemah dari perkiraan.
Namun, pelemahan dolar tersebut tidak berlangsung lama. Indeks dolar AS kembali rebound secara kuat setelah muncul pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat The Fed. Sikap ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga acuan AS akan tetap berada di level tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tetap berada dalam posisi rentan.
Potensi Intervensi Bank Indonesia
Level Rp17.000 Jadi Perhatian Pasar
Lukman menilai bahwa pelemahan rupiah yang berkelanjutan dan pergerakannya yang semakin mendekati level Rp17.000 per dolar AS berpotensi mendorong Bank Indonesia (BI) untuk melakukan langkah stabilisasi.
Intervensi BI, baik melalui pasar spot, pasar obligasi, maupun instrumen lainnya, dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pasar juga mencermati komitmen otoritas moneter dalam menjaga kepercayaan investor terhadap aset domestik.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Rentang Rp16.800–Rp16.950
Ke depan, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar serta tarik-menarik antara sentimen domestik dan global.
Selama dolar AS masih berada dalam tren kuat dan The Fed mempertahankan sikap hawkish, ruang penguatan rupiah diperkirakan terbatas. Namun, kehadiran BI di pasar diharapkan dapat menahan pelemahan yang lebih dalam.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diimbau untuk tetap mencermati perkembangan global dan kebijakan moneter sebagai faktor utama penentu arah rupiah dalam jangka pendek.







One Comment