Indonesia menegaskan komitmen tegas untuk memberantas perdagangan satwa liar dan pembalakan liar. Hashim Djojohadikusumo menyampaikan langkah konkret RI di forum internasional United for Wildlife Global Summit 2025.
MonetaPost – Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu negara yang berkomitmen kuat dalam mengatasi perdagangan satwa liar dan pembalakan liar. Dalam forum United for Wildlife Global Summit 2025 yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil, Utusan Khusus Presiden bidang Perubahan Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menyampaikan bahwa Indonesia tidak akan segan menindak tegas setiap praktik kejahatan lingkungan yang mengancam kelestarian alam dan keanekaragaman hayati.
Hashim menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari aksi kolektif global dalam memerangi kejahatan lingkungan lintas negara. Ia menyoroti bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk menjaga kekayaan hayati yang menjadi paru-paru dunia. “Izinkan saya menegaskan komitmen kuat Indonesia untuk memajukan aksi kolektif melawan kejahatan yang berdampak pada lingkungan,” ujarnya dalam sambutan resmi.
Menurutnya, kolaborasi antarnegara sangat penting karena kejahatan seperti perdagangan satwa liar dan pembalakan liar bersifat lintas batas dan kerap melibatkan jaringan terorganisir. Oleh karena itu, Hashim mengajak negara-negara lain untuk memperkuat kerja sama dalam hal penegakan hukum, pertukaran data intelijen, dan peningkatan kapasitas lembaga lingkungan.
Pernyataan Hashim Djojohadikusumo di Forum Global
Dalam sesi pertemuan tingkat menteri, Hashim menyampaikan bahwa Indonesia sepenuhnya sejalan dengan seruan dunia untuk mengakhiri perdagangan satwa liar dan pembalakan liar. Ia menegaskan bahwa penegakan hukum harus dilakukan secara tegas namun tetap memperhatikan keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pembangunan ekonomi nasional.
“Kami berkomitmen menjadi bagian aktif dari gerakan global melawan pembalakan liar dan perdagangan satwa liar,” kata Hashim.
Hashim juga mengingatkan bahwa upaya ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat, sektor swasta, dan organisasi internasional. Dengan pendekatan kolaboratif, Indonesia berharap dapat menekan laju deforestasi dan mengurangi praktik eksploitasi satwa langka yang sering menjadi target perdagangan ilegal.
Ia menyoroti pentingnya transparansi rantai pasok dan pengawasan di tingkat akar rumput. Dalam banyak kasus, pelaku kejahatan lingkungan memanfaatkan lemahnya kontrol di wilayah perbatasan dan kesenjangan sosial-ekonomi masyarakat sekitar hutan. Oleh sebab itu, penguatan ekonomi lokal juga menjadi bagian penting dalam strategi nasional memberantas perdagangan satwa liar dan pembalakan liar.
Prinsip ‘No One Left Behind’ dalam Aksi Lingkungan
Hashim mengingatkan bahwa setiap upaya global dalam melawan kejahatan lingkungan harus tetap menjunjung tinggi prinsip keadilan sosial. Ia mengusulkan adanya mekanisme evaluasi berkala agar kebijakan internasional tidak justru menimbulkan hambatan baru bagi negara berkembang yang masih bergantung pada sumber daya alam.
“Kami mengusulkan mekanisme evaluasi untuk menilai dampak, mengidentifikasi praktik terbaik, dan menegakkan prinsip ‘no one left behind’,” jelas Hashim.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya ingin menjadi peserta, tetapi juga ingin memberikan kontribusi substantif dalam menyusun solusi global yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Bagi Indonesia, menjaga lingkungan harus berjalan beriringan dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan konservasi.
Dukungan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyambut positif pernyataan Hashim Djojohadikusumo tersebut. Ia menilai bahwa komitmen itu sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam memperkuat perlindungan ekosistem hutan dan satwa langka. Menurutnya, Hashim bukan hanya pejabat publik, tetapi juga seorang pecinta satwa sejati.
“Pak Hashim bukan hanya pejabat negara, tetapi juga pecinta satwa sejati. Beliau bahkan menggunakan dana pribadi untuk mendukung konservasi di Kalimantan Timur, Riau, dan Sumatera Barat,” ujar Raja Antoni.
Raja menegaskan bahwa dukungan personal seperti itu mencerminkan komitmen nyata Indonesia, bukan sekadar retorika di forum internasional. Upaya Hashim yang menggabungkan diplomasi lingkungan dengan aksi nyata di lapangan menunjukkan bagaimana pejabat publik bisa menjadi teladan dalam pelestarian alam.
Langkah Selanjutnya Indonesia di Forum Global
Sebagai tindak lanjut dari komitmen tersebut, Hashim menyatakan kesiapan Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai forum internasional penting, antara lain:
- Sidang ke-7 United Nations Environment Assembly (UNEA-7)
- Kongres Kejahatan PBB ke-15 (UN Crime Congress)
- Konferensi ke-13 UNTOC COP-13 tentang Kejahatan Terorganisir Transnasional
Partisipasi aktif Indonesia dalam forum-forum tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah untuk memperkuat kerja sama internasional dalam memberantas perdagangan satwa liar dan pembalakan liar. Selain itu, Indonesia juga berkomitmen meningkatkan kapasitas aparat penegak hukum, memperkuat koordinasi antarinstansi, dan memperluas kerja sama bilateral dengan negara yang memiliki ekosistem serupa.
Hashim menambahkan bahwa keterlibatan Indonesia di forum global bukan hanya untuk memperjuangkan kepentingan nasional, tetapi juga untuk memastikan bahwa kebijakan global berjalan adil bagi semua pihak. “Kami ingin menjadi jembatan antara negara maju dan berkembang dalam melawan kejahatan lingkungan,” katanya.
Peran Indonesia dalam Menjaga Satwa dan Hutan Dunia
Pernyataan Hashim Djojohadikusumo di Rio de Janeiro menegaskan arah baru komitmen Indonesia dalam menjaga kelestarian lingkungan. Negara ini tidak hanya fokus pada penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar dan pembalakan liar, tetapi juga memastikan agar kebijakan global tidak menekan negara berkembang.
Dengan langkah tegas, kebijakan inklusif, dan kerja sama internasional yang kuat, Indonesia berpotensi menjadi contoh global dalam menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan pelestarian alam. Hashim menutup pernyataannya dengan pesan bahwa menjaga satwa dan hutan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.







One Comment