Home / Market / Bursa Asia Menguat 0,8%, Pasar Tunggu Inflasi & The Fed

Bursa Asia Menguat 0,8%, Pasar Tunggu Inflasi & The Fed

asia

Mayoritas bursa Asia menguat jelang rilis inflasi China dan keputusan suku bunga The Fed. Investor menantikan arah kebijakan moneter global.

MonetaPost – Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Rabu, 10 Desember 2025. Pergerakan positif ini terjadi di tengah antisipasi dua data ekonomi terpenting menjelang akhir tahun: rilis inflasi China dan keputusan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat (AS). Kedua indikator ini dipandang sebagai katalis besar yang dapat menentukan arah pasar dalam jangka pendek, terutama bagi aset-aset berisiko di kawasan Asia.

Para pelaku pasar saat ini berada dalam fase menunggu, di mana volatilitas cenderung terbatas karena investor memilih menunda posisi besar sebelum kejelasan kebijakan moneter muncul. Meskipun demikian, sebagian indeks Asia memilih bergerak di zona hijau karena optimisme bahwa kebijakan moneter global menuju pelonggaran lebih lanjut.

Ekspektasi Pasar Terhadap Keputusan Suku Bunga The Fed

Pengumuman suku bunga Federal Reserve menjadi fokus utama perdagangan minggu ini. Keputusan akan diumumkan pada hari Rabu waktu Amerika Serikat atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Ini menjadi pengumuman terakhir untuk tahun 2025, sehingga para pelaku pasar menganggapnya sangat krusial untuk membaca arah kebijakan The Fed di tahun mendatang.

Pasar Antisipasi Pemangkasan 0,25 Persen

Sebagian besar analis dan pelaku pasar memperkirakan bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25%—konsisten dengan pemangkasan yang sudah dilakukan pada bulan September dan Oktober. Jika pemangkasan benar dilakukan, ini akan menjadi ketiga kalinya secara beruntun dalam paruh kedua 2025.

Ekspektasi ini muncul karena sejumlah indikator ekonomi AS menunjukkan perlambatan yang terkendali. Inflasi telah mendekati target 2%, sementara pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran. Dalam kondisi seperti ini, penurunan suku bunga dianggap wajar untuk menjaga stabilitas ekonomi tanpa memicu resesi.

Dampak terhadap Pasar Asia

Keputusan suku bunga The Fed memiliki dampak langsung terhadap pasar Asia melalui:

  • pergerakan dolar AS
  • arus modal asing
  • sentimen risiko global
  • nilai tukar mata uang di Asia Pasifik

Pemangkasan suku bunga AS biasanya mendukung penguatan aset Asia karena aliran dana cenderung masuk ke pasar berkembang. Inilah salah satu alasan mengapa investor tetap cukup optimis dan indeks Asia dibuka menguat.

Data Inflasi China Jadi Penentu Sentimen Kawasan

Selain The Fed, pasar juga menanti rilis data inflasi China yang dianggap penting dalam menentukan arah perekonomian kawasan. Inflasi China selama beberapa bulan terakhir bergerak di wilayah rendah, dengan sesekali mendekati zona negatif. Ini menimbulkan kekhawatiran tentang lemahnya permintaan domestik di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Ekspektasi Pemulihan Konsumsi

Pelaku pasar berharap inflasi China mengalami peningkatan moderat yang menandakan konsumsi mulai pulih. Jika inflasi naik dalam batas yang wajar, pasar dapat menginterpretasikannya sebagai tanda bahwa kebijakan stimulus pemerintah China mulai efektif.

Sebaliknya, jika inflasi kembali melemah, hal ini dapat menekan sentimen perdagangan Asia karena China memiliki kontribusi besar terhadap rantai pasok global dan perdagangan antarnegara di kawasan.

Kinerja Bursa Asia-Pasifik pada Pembukaan

Sejumlah indeks utama Asia mencatatkan penguatan pada awal perdagangan Rabu. Masing-masing indeks bergerak dengan dinamika unik tergantung respons lokal terhadap kondisi global.

Australia dan Jepang Memimpin Penguatan

Indeks S&P/ASX 200 Australia dibuka naik 0,2%. Penguatan ini didorong sektor pertambangan dan perbankan yang sensitif terhadap perubahan suku bunga AS. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 0,82%, disusul Topix yang naik 0,65%.

Sentimen di Jepang turut dipengaruhi oleh pelemahan yen, yang biasanya memberi dorongan bagi eksportir besar seperti produsen otomotif dan elektronik.

Korea Selatan Bergerak Campuran

Bursa Korea Selatan mencatat pergerakan campuran. Indeks Kospi naik 0,22%, sementara indeks Kosdaq turun 0,19%. Kospi menguat ditopang saham teknologi kapitalisasi besar, sedangkan Kosdaq melemah terutama karena aksi ambil untung di saham-saham berkapitalisasi kecil.

Hong Kong Bergerak Mendatar

Indeks Hang Seng berjangka berada di level 25.399, sedikit lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya di 25.434,23. Ini menunjukkan investor Hong Kong memilih wait and see sebelum rilis data inflasi China.

Kondisi Wall Street: Pergerakan Stagnan Jelang Keputusan The Fed

Sementara itu, perdagangan di AS pada Selasa malam bergerak relatif datar. S&P 500 ditutup hampir tidak berubah, hanya turun 0,09% ke posisi 6.840,51. Nasdaq Composite naik tipis 0,13% ke 23.576,49, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 179 poin atau 0,38%.

Pelemahan Dow dipicu revisi peringkat beberapa saham besar oleh lembaga keuangan terkemuka karena proyeksi pengeluaran tahun 2026 yang dianggap meningkat lebih tinggi dari perkiraan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar AS juga berada dalam mode bertahan sambil menunggu indikasi arah kebijakan moneter The Fed.

Perdagangan Asia pada hari Rabu dibuka dengan penguatan mayoritas indeks, didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga AS dan harapan inflasi China menunjukkan perbaikan. Meskipun sentimen pasar lebih condong ke arah positif, investor tetap berhati-hati menjelang dua rilis data penting yang berpotensi mengubah arah pasar global. Pergerakan indeks AS yang cenderung stagnan turut menegaskan bahwa pasar dunia saat ini berada pada titik krusial menuju akhir tahun.

Tagged:

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *