AADI akan membagikan dividen interim 2025 senilai Rp 4,17 triliun pada 27 November 2025. Meski laba turun 45%, Adaro tetap jaga komitmen ke investor.
MonetaPost – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) akan membagikan dividen interim tahun buku 2025 senilai US$250 juta atau setara Rp4,17 triliun (kurs Rp16.690 per dolar AS). Pembagian dividen ini berasal dari laba bersih sembilan bulan pertama tahun 2025 yang berakhir pada 30 September 2025.
Keputusan pembagian dividen tersebut telah disetujui oleh Direksi dan Dewan Komisaris AADI pada 7 November 2025.
Langkah ini menunjukkan komitmen perseroan untuk terus memberikan nilai tambah kepada pemegang saham, meskipun kinerja laba tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Perseroan akan membagikan dividen tunai interim untuk tahun buku 2025 sebesar AS$250.000.000 yang berasal dari laba bersih Perseroan pada periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2025 (Dividen Interim),” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/11/2025).
Jadwal Pembagian Dividen Interim AADI
Berikut jadwal lengkap pembagian dividen interim AADI sesuai pengumuman resmi di BEI:
| Keterangan | Tanggal |
|---|---|
| Keputusan Direksi & Dewan Komisaris | 7 November 2025 |
| Pengumuman jadwal & tata cara di BEI dan situs perseroan | 7 November 2025 |
| Cum dividen pasar reguler & negosiasi | 17 November 2025 |
| Ex dividen pasar reguler & negosiasi | 18 November 2025 |
| Cum dividen pasar tunai | 19 November 2025 |
| Ex dividen pasar tunai | 20 November 2025 |
| Tanggal pencatatan (Record Date) | 19 November 2025 |
| Pengumuman kurs konversi BI | 19 November 2025 |
| Pembayaran dividen interim | 27 November 2025 |
Dengan jadwal tersebut, para investor yang ingin memperoleh hak atas dividen perlu memastikan kepemilikan saham AADI paling lambat pada 17 November 2025 untuk pasar reguler dan 19 November 2025 untuk pasar tunai.
Laba AADI Anjlok 45,3% di Kuartal III-2025
Meski membagikan dividen jumbo, kinerja keuangan Adaro Andalan Indonesia menunjukkan tekanan cukup signifikan sepanjang 2025.
Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke BEI, laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga kuartal III-2025 tercatat sebesar US$587,3 juta, turun 45,3% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai US$1,07 miliar.
Penurunan laba terutama disebabkan oleh turunnya pendapatan usaha dan menyusutnya margin laba kotor akibat harga batu bara yang cenderung menurun sepanjang tahun.
Pendapatan usaha AADI per September 2025 hanya mencapai US$3,6 miliar, turun dari US$4,04 miliar pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, beban pokok pendapatan turun menjadi US$2,6 miliar dari sebelumnya US$2,9 miliar, sehingga laba kotor juga menyusut menjadi US$943,2 juta, dibanding US$1,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Setelah memperhitungkan beban usaha sebesar US$171,8 juta (turun dari US$192 juta) dan pendapatan lain-lain bersih sebesar US$39,1 juta (anjlok dari US$326,2 juta), laba usaha AADI merosot ke US$810,5 juta dari US$1,2 miliar tahun lalu.
Laba sebelum pajak penghasilan tercatat US$812,5 juta, turun tajam dibandingkan US$1,3 miliar pada kuartal III-2024. Setelah dikurangi beban pajak, laba bersih periode berjalan menjadi US$654,8 juta, turun drastis dari US$1,16 miliar tahun sebelumnya.
“Penurunan ini mencerminkan tekanan pada sektor batu bara yang menjadi sumber utama pendapatan grup Adaro, serta penyesuaian pasar energi global yang lebih konservatif,” tulis analis NH Korindo Sekuritas dalam risetnya.
Aset Turun, Tapi Likuiditas Masih Kuat
Selain laba yang turun, total aset AADI juga menurun dari US$2,6 miliar pada akhir 2024 menjadi US$2,3 miliar per kuartal III-2025.
Penurunan aset ini disebabkan oleh penyesuaian nilai persediaan dan kas akibat pembayaran utang serta distribusi dividen sebelumnya.
Kendati demikian, posisi kas dan setara kas AADI dinilai masih cukup kuat untuk mendukung pembayaran dividen dan operasional jangka pendek.
Rasio utang terhadap ekuitas (DER) juga masih terjaga di level aman, mencerminkan efisiensi pengelolaan keuangan perusahaan.
Kebijakan Dividen Jadi Daya Tarik Investor
Analis menilai keputusan AADI untuk tetap membagikan dividen besar di tengah penurunan laba menunjukkan komitmen kuat terhadap pemegang saham.
Kebijakan ini diprediksi menjadi sentimen positif bagi pergerakan saham AADI dalam jangka pendek, terutama bagi investor yang mengejar dividend yield tinggi.
“Meski kinerja melemah, AADI masih memiliki cash flow solid dari operasi tambang dan kontribusi grup Adaro. Pembagian dividen ini menjadi sinyal bahwa manajemen percaya pada stabilitas arus kas di kuartal IV,” ujar analis Trimegah Sekuritas, Rizky Hartono.
Prospek AADI ke Depan
Ke depan, AADI diperkirakan masih akan menghadapi tantangan dari fluktuasi harga batu bara global dan penurunan permintaan dari Tiongkok.
Namun, perusahaan disebut tengah memperkuat strategi diversifikasi bisnis energi, termasuk melalui investasi di sektor energi terbarukan dan gas.
Adaro Group sebelumnya telah mengumumkan rencana untuk meningkatkan portofolio energi hijau guna menyeimbangkan ketergantungan terhadap batu bara. AADI sebagai bagian dari grup ini akan memainkan peran penting dalam transisi energi tersebut.
Meski menghadapi tekanan kinerja dan penurunan laba signifikan, langkah AADI membagikan dividen interim sebesar Rp4,17 triliun menegaskan kekuatan keuangan dan komitmen perusahaan terhadap pemegang saham.
Dengan jadwal pembagian yang sudah ditetapkan dan fundamental yang masih solid, saham AADI berpotensi tetap menarik di mata investor yang mengincar pendapatan dividen stabil.







One Comment