Home / Market / Wall Street Turun 3 Indeks, Saham AI Dilepas

Wall Street Turun 3 Indeks, Saham AI Dilepas

wall

Wall Street ditutup melemah jelang akhir tahun 2025. Saham teknologi dan AI dilepas investor meski kinerja tahunan indeks utama masih solid.

MonetaPost – Pasar saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan akhir Desember 2025. Tekanan datang dari aksi ambil untung investor, khususnya pada saham-saham teknologi dan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), menjelang tutup buku akhir tahun. Pelemahan ini terjadi tak lama setelah indeks utama mencetak rekor tertinggi baru pada pekan sebelumnya.

Kondisi tersebut mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar, meskipun secara keseluruhan kinerja Wall Street sepanjang 2025 masih tergolong sangat kuat.

Indeks Utama Wall Street Ditutup di Zona Merah

Pada perdagangan Senin waktu setempat, tiga indeks utama Wall Street kompak melemah. Indeks S&P 500 turun sekitar 0,35 persen dan ditutup di level 6.905,74. Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi terkoreksi lebih dalam, yakni sekitar 0,50 persen ke posisi 23.474,35. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 249 poin atau sekitar 0,51 persen ke level 48.461,93.

Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya S&P 500 sempat menyentuh level tertinggi intraday di 6.945,77. Namun, reli tersebut gagal berlanjut karena investor mulai mengunci keuntungan, terutama pada saham-saham yang telah mencatat lonjakan signifikan sepanjang tahun.

Saham Teknologi dan AI Jadi Sumber Tekanan

Aksi Ambil Untung di Saham AI

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, khususnya saham berbasis kecerdasan buatan yang menjadi motor penguatan pasar sepanjang 2025. Saham Nvidia terkoreksi lebih dari 1 persen setelah sebelumnya melonjak tajam dalam sepekan terakhir. Saham-saham teknologi besar lainnya seperti Palantir Technologies, Meta Platforms, dan Oracle juga bergerak di zona merah.

Aksi jual ini dinilai sebagai bentuk normalisasi pasar setelah reli panjang. Sepanjang 2025, saham AI menjadi primadona investor global seiring masifnya adopsi teknologi kecerdasan buatan di berbagai sektor industri.

Momentum Pasar Jadi Faktor Kunci

Dengan minimnya rilis data ekonomi penting pada pekan terakhir tahun ini, pergerakan pasar lebih banyak ditentukan oleh momentum internal dan sentimen investor. Jika pasar ingin menutup tahun dengan penguatan dua digit tambahan, sektor teknologi diperkirakan masih harus kembali menjadi penopang utama.

Namun, dalam jangka pendek, volatilitas cenderung meningkat karena sebagian investor memilih bersikap defensif menjelang pergantian tahun.

Kinerja Wall Street Sepanjang 2025 Tetap Gemilang

Meski melemah di akhir tahun, Wall Street mencatatkan performa yang sangat solid sepanjang 2025. Indeks S&P 500 telah menguat lebih dari 17 persen secara year to date. Dow Jones mencatat kenaikan sekitar 14 persen dan berada di jalur kinerja tahunan terbaik sejak 2021.

Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan lonjakan lebih dari 21 persen sepanjang tahun, didorong oleh euforia saham teknologi dan AI. Kinerja ini menegaskan bahwa 2025 menjadi salah satu tahun terbaik bagi pasar saham AS dalam beberapa tahun terakhir.

Pasar Masuki Fase Santa Claus Rally

Pola Musiman Akhir Tahun

Saat ini, Wall Street juga memasuki periode yang dikenal sebagai Santa Claus rally. Secara historis, fase ini kerap ditandai dengan penguatan pasar saham pada lima hari perdagangan terakhir di akhir tahun hingga dua hari pertama tahun berikutnya.

Meski demikian, tidak ada jaminan bahwa pola historis akan selalu terulang. Aksi ambil untung, rebalancing portofolio, serta minimnya volume perdagangan dapat memicu fluktuasi harga yang cukup tajam.

Fokus Investor pada Risalah The Fed

Di tengah kalender data ekonomi yang relatif lengang, perhatian investor tertuju pada satu agenda penting, yakni rilis risalah rapat kebijakan Federal Reserve bulan Desember. Dokumen ini dinantikan sebagai petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS menjelang 2026.

Isyarat terkait suku bunga, inflasi, dan kondisi ekonomi akan menjadi faktor penentu sentimen pasar pada awal tahun depan.

Harga Perak Terkoreksi Tajam Setelah Reli Panjang

Di luar pasar saham, tekanan juga terlihat di pasar komoditas. Harga perak terkoreksi tajam lebih dari 6 persen setelah sebelumnya menyentuh level 80 dolar AS per ons, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Koreksi ini terjadi setelah perak mencatat reli luar biasa sepanjang 2025, dengan kenaikan hampir 150 persen. Lonjakan harga yang ekstrem membuat investor memilih mengamankan keuntungan, sehingga memicu penurunan tajam dalam waktu singkat. Sejalan dengan itu, produk investasi berbasis perak juga mengalami pelemahan signifikan.

Prospek Pasar Jelang 2026

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati kombinasi antara kebijakan moneter The Fed, perkembangan sektor teknologi, serta kondisi ekonomi global. Meski tekanan jangka pendek masih mungkin terjadi, fondasi pasar saham AS dinilai tetap kuat, terutama jika pertumbuhan laba perusahaan mampu berlanjut.

Dengan kinerja impresif sepanjang 2025, Wall Street menutup tahun dengan optimisme yang tetap terjaga, meski diiringi kehati-hatian menjelang memasuki 2026.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *