PNBP 2025 turun Rp50 triliun akibat pengalihan dividen BUMN ke Danantara. Dampak kebijakan ini mulai terasa pada kondisi fiskal dan APBN 2026.
MonetaPost – Realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sepanjang tahun 2025 tercatat mengalami penurunan signifikan. Kementerian Keuangan melaporkan total PNBP hanya mencapai Rp534,1 triliun. Angka ini turun sekitar Rp50 triliun atau setara 8,6 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp584,4 triliun. Penurunan tersebut menjadi sorotan karena terjadi di tengah kebutuhan pembiayaan negara yang masih cukup besar.
Meski demikian, pemerintah menekankan bahwa kinerja PNBP tidak sepenuhnya buruk. Jika dibandingkan dengan target APBN 2025 yang dipatok sebesar Rp513,8 triliun, realisasi PNBP justru melampaui target hingga 104 persen. Artinya, dari sisi perencanaan anggaran, penerimaan masih berjalan relatif baik.
Peran Danantara dalam Perubahan Struktur PNBP
Dividen BUMN Tak Lagi Masuk Kas Negara
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan bahwa penurunan PNBP secara tahunan tidak lepas dari perubahan kebijakan besar, yakni beroperasinya Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Lembaga ini dibentuk sebagai sovereign wealth fund (SWF) Indonesia yang bertugas mengelola investasi strategis negara, termasuk pengelolaan dividen BUMN.
Sebelum Danantara beroperasi, dividen BUMN secara langsung dicatat sebagai bagian dari PNBP dan masuk ke kas negara. Namun, sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025, mekanisme tersebut berubah. Dividen BUMN kini dikelola oleh Danantara dan tidak lagi tercatat sebagai penerimaan langsung APBN.
Dampak Akuntansi Fiskal
Perubahan ini menimbulkan efek statistik yang cukup besar terhadap laporan PNBP. Secara kas, negara tidak kehilangan sumber daya, tetapi secara pencatatan APBN, angka PNBP menjadi lebih kecil. Hal inilah yang menjelaskan mengapa realisasi PNBP tampak menurun tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah menilai perubahan ini sebagai bagian dari reformasi struktural, bukan pelemahan kinerja penerimaan. Dalam jangka panjang, Danantara diharapkan mampu mengoptimalkan pengelolaan aset negara agar memberikan imbal hasil yang lebih berkelanjutan.
Kinerja PNBP Sektor Sumber Daya Alam
SDA Migas di Bawah Target
Dari sisi sektoral, penerimaan PNBP masih ditopang oleh sektor sumber daya alam (SDA), khususnya minyak dan gas bumi. Sepanjang 2025, PNBP dari SDA migas tercatat sebesar Rp105,5 triliun. Angka ini berada di bawah target APBN yang ditetapkan sebesar Rp125,5 triliun.
Jika dibandingkan dengan tahun 2024, penerimaan SDA migas juga mengalami penurunan. Pada tahun sebelumnya, sektor ini masih mampu menyumbang sekitar Rp110,9 triliun. Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari fluktuasi harga komoditas global hingga tantangan produksi domestik.
Tantangan Harga dan Produksi
Harga minyak dunia yang tidak stabil sepanjang 2025 menjadi salah satu faktor utama yang menekan penerimaan migas. Selain itu, tren penurunan lifting minyak nasional juga turut berkontribusi terhadap rendahnya realisasi PNBP migas. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada sektor SDA masih menyimpan risiko yang cukup besar bagi penerimaan negara.
Evaluasi Pemerintah terhadap Kinerja PNBP
Melampaui Target, Tapi Menurun Tahunan
Pemerintah menilai capaian PNBP 2025 tetap patut diapresiasi karena mampu melampaui target APBN. Namun, penurunan secara tahunan tetap menjadi bahan evaluasi, terutama dalam konteks keberlanjutan fiskal.
Kementerian Keuangan menegaskan bahwa ke depan, kualitas penerimaan negara tidak hanya diukur dari besarnya angka, tetapi juga dari stabilitas dan keberlanjutannya. Oleh karena itu, reformasi kelembagaan seperti pembentukan Danantara dianggap sebagai langkah strategis jangka panjang.
Diversifikasi Sumber PNBP
Pemerintah juga mendorong diversifikasi sumber PNBP agar tidak terlalu bergantung pada SDA dan dividen BUMN. Optimalisasi layanan kementerian dan lembaga, peningkatan kualitas pengelolaan aset negara, serta pemanfaatan teknologi digital menjadi beberapa strategi yang tengah dikembangkan.
Prospek PNBP ke Depan
Dengan beroperasinya Danantara secara penuh, struktur PNBP Indonesia diperkirakan akan semakin berubah. Dividen BUMN tidak lagi menjadi penopang utama PNBP, tetapi diharapkan mampu memberikan nilai tambah melalui investasi jangka panjang yang dikelola secara profesional.
Ke depan, tantangan utama pemerintah adalah menjaga keseimbangan antara reformasi struktural dan kebutuhan pembiayaan APBN. Penurunan PNBP pada 2025 menjadi pengingat bahwa transformasi fiskal membutuhkan adaptasi, komunikasi yang jelas, serta kebijakan lanjutan agar dampaknya dapat dirasakan secara optimal oleh perekonomian nasional.







One Comment