Home / Ekonomi / Nataru 2025–2026, 119,5 Juta Orang Diperkirakan Bepergian

Nataru 2025–2026, 119,5 Juta Orang Diperkirakan Bepergian

nataru

Kemenhub memperkirakan 119,5 juta orang bepergian saat libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Posko Nataru beroperasi 19 hari dengan fokus keselamatan dan koordinasi.

MonetaPost – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan pergerakan masyarakat selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) akan mencapai 119,5 juta orang. Proyeksi tersebut mencerminkan tingginya mobilitas nasional menjelang akhir tahun, seiring panjangnya masa libur dan meningkatnya minat masyarakat untuk berwisata, mudik, maupun beristirahat bersama keluarga.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan bahwa lonjakan perjalanan tidak hanya berasal dari umat Nasrani yang merayakan Natal, tetapi juga masyarakat lintas agama yang memanfaatkan momentum libur panjang akhir tahun. Hal ini membuat periode Nataru menjadi salah satu fase paling krusial dalam pengelolaan transportasi nasional.

Posko Nataru Beroperasi 19 Hari

Pusat Koordinasi Lintas Sektor

Untuk mengantisipasi lonjakan mobilitas tersebut, Kemenhub mengoperasikan Posko Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 selama 19 hari, terhitung mulai 18 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026. Posko ini berlokasi di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan dan berfungsi sebagai pusat kendali serta koordinasi lintas sektor.

Posko Nataru menjadi simpul utama dalam memastikan seluruh kebijakan, langkah operasional, serta respons di lapangan dapat berjalan secara terpadu, cepat, dan tepat sasaran. Melalui posko ini, pemerintah memantau pergerakan penumpang di berbagai moda transportasi, mulai dari darat, laut, udara, hingga perkeretaapian.

Standar Tinggi Penyelenggaraan Transportasi

Menhub menegaskan bahwa seluruh proses kebijakan dan pengendalian operasional selama masa Nataru harus dijalankan dengan standar yang tinggi. Hal ini mencakup kesiapan sarana dan prasarana, ketersediaan armada, pengaturan jadwal, hingga pengawasan keselamatan penumpang.

Dengan standar operasional yang ketat, pemerintah berharap potensi gangguan perjalanan dapat ditekan dan pelayanan transportasi publik tetap optimal meskipun volume penumpang meningkat signifikan.

Wilayah Rawan Kepadatan Jadi Fokus Pengawasan

Jawa dan Kawasan Timur Indonesia

Kemenhub mengidentifikasi sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan kepadatan selama Nataru. Jawa Tengah menjadi salah satu daerah yang diwaspadai, mengingat posisinya sebagai jalur utama perlintasan dan destinasi favorit wisata maupun mudik.

Selain itu, wilayah timur Indonesia juga menjadi perhatian, termasuk Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua, Nusa Tenggara Timur, serta Sumatra Utara. Meski tidak selalu menjadi kawasan terpadat secara nasional, pergerakan masyarakat di daerah-daerah tersebut dinilai cukup tinggi dan membutuhkan pengawasan ekstra.

Antisipasi Sejak Dini

Menurut Kemenhub, pengawasan di wilayah-wilayah tersebut dilakukan sejak dini untuk mengantisipasi potensi kepadatan, keterlambatan, maupun gangguan operasional. Langkah ini penting agar distribusi penumpang tetap lancar dan risiko penumpukan di simpul transportasi dapat diminimalkan.

Empat Fokus Utama Penyelenggaraan Angkutan Nataru

1. Keamanan dan Keselamatan Prioritas Tertinggi

Keamanan dan keselamatan menjadi fokus utama dalam penyelenggaraan angkutan Nataru. Seluruh jajaran transportasi diwajibkan melakukan antisipasi dan mitigasi risiko secara konsisten guna mencegah kecelakaan maupun fatalitas. Pemeriksaan armada, kesiapan awak, serta pengawasan operasional menjadi bagian penting dari upaya ini.

2. Penguatan Sinergi Lintas Instansi

Pemerintah menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antara kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, BUMN, serta seluruh pemangku kepentingan. Koordinasi yang solid diperlukan agar setiap kebijakan dan tindakan di lapangan berjalan selaras dan saling mendukung, terutama di titik-titik krusial seperti bandara, pelabuhan, terminal, dan stasiun.

3. Perhatian pada Detail Operasional

Selain kebijakan besar, Kemenhub juga menaruh perhatian pada hal-hal kecil dan detail operasional. Setiap aspek, sekecil apa pun, tidak boleh diabaikan. Pengawasan cermat terhadap jadwal, fasilitas penumpang, hingga alur pelayanan menjadi kunci menjaga kenyamanan masyarakat selama perjalanan.

4. Antisipasi Ketidakpastian dan Cuaca Ekstrem

Faktor ketidakpastian, khususnya terkait cuaca ekstrem dan potensi bencana alam, menjadi perhatian serius. Pemerintah menyiapkan berbagai skenario serta langkah respons cepat agar gangguan akibat cuaca dapat ditangani dengan tepat dan tidak mengganggu keseleluruhan arus transportasi.

Harapan Libur Nataru Aman dan Terkendali

Dengan berpegang pada empat fokus utama tersebut, Kemenhub berharap penyelenggaraan angkutan Natal dan Tahun Baru 2025–2026 dapat berlangsung aman, lancar, dan terkendali. Lonjakan pergerakan hingga ratusan juta orang diharapkan tidak mengurangi kualitas pelayanan transportasi nasional.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan dengan baik, mematuhi aturan keselamatan, serta mengikuti arahan petugas di lapangan agar libur akhir tahun dapat dinikmati dengan nyaman dan selamat.

Tagged:

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *