Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan anak muda agar tidak FOMO dalam berinvestasi dan mengelola belanja dengan bijak tanpa utang. Pesannya menjadi panduan penting bagi generasi muda di tengah tantangan ekonomi global.
MonetaPost – Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan pesan tegas kepada generasi muda terkait kebiasaan berinvestasi dan mengatur keuangan pribadi. Ia menekankan bahwa investasi tidak boleh dilakukan hanya karena ikut-ikutan atau dilandasi rasa FOMO (fear of missing out).
Menurutnya, sebelum memutuskan menempatkan uang pada instrumen tertentu, generasi muda harus melakukan analisis mendalam. Hal ini penting agar keputusan investasi benar-benar berdasarkan pemahaman, bukan sekadar dorongan emosional atau tren sesaat.
“Kalau mau berinvestasi, di instrumen apapun, pelajari dulu instrumen itu apa. Jangan asal ikut-ikutan orang, jangan FOMO. Kalau dipelajari dengan baik, saya yakin mereka pasti berhasil,” kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta (16/9).
Literasi Keuangan Jadi Kunci Sukses Generasi Muda
Pesan Purbaya bukan tanpa alasan. Tren investasi di kalangan anak muda memang meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak pandemi. Namun, tingginya minat ini sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman dasar mengenai risiko, manajemen portofolio, maupun cara membaca kondisi pasar.
Purbaya menegaskan bahwa literasi keuangan adalah kunci utama agar anak muda dapat menghindari kerugian besar. Dengan memahami karakteristik instrumen, mulai dari saham, obligasi, hingga aset digital, generasi muda bisa mengambil keputusan yang lebih bijak.
Ia meyakini, dengan kedisiplinan dalam mempelajari instrumen keuangan, generasi muda Indonesia mampu membangun masa depan finansial yang lebih stabil.
Belanja Boleh, Tapi Jangan Sampai Berutang
Selain investasi, Purbaya juga menyoroti gaya hidup konsumtif yang kerap menjadi tantangan bagi generasi muda, terutama di era digital dengan maraknya tren belanja online.
Menurutnya, berbelanja adalah hal wajar dan sah-sah saja dilakukan. Namun, ia menekankan bahwa setiap orang harus menyesuaikan pengeluaran dengan kondisi keuangan pribadi.
“Belanja tidak apa-apa, mau yang mahal atau yang murah, silakan saja. Tetapi sesuaikan dengan kantong Anda sendiri. Jangan sampai ngutang hanya untuk gaya,” tegasnya.
Pesan ini relevan dengan fenomena paylater atau pembiayaan konsumtif berbasis utang yang kini semakin populer di kalangan anak muda. Jika tidak dikelola dengan bijak, kebiasaan ini dapat menjerat individu dalam masalah finansial jangka panjang.
Amanah Berat Sebagai Menteri Keuangan
Pesan keuangan dari Purbaya ini tidak bisa dilepaskan dari perannya sebagai Menteri Keuangan yang baru. Pada 9 September 2025, ia resmi dilantik menggantikan Sri Mulyani Indrawati melalui prosesi Serah Terima Jabatan (Sertijab) di kantor Kementerian Keuangan.
Dalam sambutannya, Purbaya menyebut jabatan ini bukan sekadar tanggung jawab teknis, tetapi juga amanah besar untuk menjaga stabilitas fiskal negara dan kepercayaan publik.
“Hari ini adalah momen yang penuh makna bagi saya pribadi dan bangsa, karena menandai babak baru pengabdian saya di Kementerian Keuangan. Saya merasa sangat terhormat atas kepercayaan yang diberikan oleh Presiden untuk menjabat sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia,” ujarnya.
Tantangan Global: Geopolitik, Teknologi, dan Iklim
Sebagai Menkeu, Purbaya juga menyoroti berbagai tantangan berat yang kini dihadapi perekonomian dunia. Ia menyebut faktor geopolitik, perkembangan teknologi, serta perubahan iklim sebagai risiko eksternal yang harus diantisipasi dengan strategi matang.
Menurutnya, stabilitas fiskal bukan hanya soal menjaga angka defisit dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga soal bagaimana negara mampu beradaptasi dengan perubahan global yang cepat.
“Amanah ini tidak ringan karena dunia dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks, baik dari sisi geopolitik, teknologi, maupun perubahan iklim,” jelasnya.
Relevansi Pesan Purbaya bagi Anak Muda
Pesan Menkeu tentang investasi bijak dan konsumsi cerdas sangat relevan dengan situasi saat ini. Generasi muda Indonesia memiliki potensi besar dalam menggerakkan perekonomian, tetapi juga rentan terjebak dalam gaya hidup instan.
Beberapa poin yang bisa dipetik dari arahannya antara lain:
-
Pahami instrumen investasi sebelum masuk. Jangan hanya ikut tren media sosial.
-
Prioritaskan literasi finansial. Luangkan waktu untuk belajar dasar-dasar keuangan.
-
Kelola konsumsi dengan bijak. Belanja boleh, tapi jangan sampai berutang untuk hal yang tidak produktif.
-
Siapkan diri menghadapi risiko global. Anak muda harus adaptif dengan perubahan ekonomi dunia.
Generasi Muda dan Masa Depan Keuangan Indonesia
Pesan Purbaya Yudhi Sadewa bukan hanya sekadar peringatan, tetapi juga ajakan bagi anak muda untuk lebih cerdas, disiplin, dan visioner dalam mengelola keuangan.
Di tengah tantangan global, generasi muda yang melek finansial akan menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi nasional. Dengan menghindari FOMO, belajar berinvestasi secara benar, dan berbelanja tanpa utang, masa depan finansial yang lebih sehat dapat terwujud.
Sebagai Menkeu baru, Purbaya telah memberi sinyal jelas bahwa kebijakan fiskal negara akan sejalan dengan edukasi publik, terutama generasi muda, agar mampu menghadapi masa depan dengan lebih siap dan percaya diri.







One Comment