Aktivitas IPO di Indonesia diproyeksi meningkat pada 2026 meski volatilitas pasar masih tinggi. Kualitas emiten dan sentimen investor jadi faktor penentu.
MonetaPost – Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Indonesia diperkirakan akan kembali menunjukkan geliat pada 2026. Proyeksi ini muncul seiring harapan stabilisasi kondisi makroekonomi global dan membaiknya persepsi investor terhadap pasar modal. Meski demikian, volatilitas pasar dinilai masih akan menjadi tantangan utama yang perlu diantisipasi oleh calon emiten maupun pelaku pasar.
Sejumlah pelaku industri menilai tahun 2026 berpotensi menjadi momentum kebangkitan pasar perdana saham, setelah sepanjang 2025 aktivitas IPO relatif lesu dan jauh dari target yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Evaluasi IPO 2025 Masih di Bawah Ekspektasi
Realisasi IPO Jauh dari Target
Sepanjang 2025, jumlah perusahaan yang mencatatkan saham perdana di BEI tercatat masih terbatas. Realisasi tersebut bahkan berada di bawah target tahunan BEI dan menjadi salah satu capaian terendah dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian emiten dalam memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan.
Minimnya jumlah IPO tidak lepas dari kombinasi berbagai faktor eksternal dan domestik yang memengaruhi iklim investasi secara keseluruhan.
Sentimen Global Tekan Minat Go Public
Ketidakpastian ekonomi global menjadi salah satu penyebab utama tertahannya rencana IPO. Fluktuasi pasar keuangan internasional, ketegangan geopolitik, serta arah kebijakan moneter negara maju membuat investor cenderung menghindari aset berisiko tinggi, termasuk saham emiten baru.
Dalam situasi seperti ini, banyak perusahaan memilih menunda rencana go public sambil menunggu kondisi pasar yang lebih kondusif dan valuasi yang dianggap wajar.
Perubahan Arah Pasar IPO: Kualitas Jadi Prioritas
Quality Over Quantity Jadi Tren Baru
Selain faktor global, kebijakan dan pendekatan pasar domestik juga turut memengaruhi minimnya IPO. BEI dan pelaku pasar kini dinilai lebih menekankan kualitas emiten dibandingkan kuantitas. Perusahaan dengan fundamental kuat, tata kelola yang baik, serta prospek bisnis jangka panjang menjadi prioritas utama.
Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma pasar modal Indonesia yang semakin matang dan berorientasi pada keberlanjutan.
Investor Lebih Selektif
Investor saat ini tidak lagi hanya mempertimbangkan potensi pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan profitabilitas, efisiensi bisnis, dan kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko. Emiten yang belum memiliki model bisnis jelas atau masih bergantung pada pembakaran modal besar dinilai kurang menarik di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Optimisme Global Dorong Harapan IPO 2026
Tren IPO Global Mulai Menguat
Secara global, prospek IPO pada 2026 dipandang lebih positif dibandingkan tahun sebelumnya. Sejumlah pasar utama menunjukkan tanda-tanda pemulihan aktivitas pasar perdana, meski volatilitas belum sepenuhnya mereda. Hal ini memberikan sentimen positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, optimisme ini tetap dibarengi dengan sikap kehati-hatian, terutama dalam menilai valuasi dan kesiapan fundamental emiten.
Teknologi dan AI Jadi Daya Tarik
Salah satu faktor yang diperkirakan memengaruhi minat investor ke depan adalah kemampuan emiten dalam memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Perusahaan yang mampu menunjukkan strategi monetisasi teknologi secara jelas dinilai memiliki daya tarik lebih tinggi di mata investor.
Faktor Penentu Keberhasilan IPO di 2026
Stabilitas Makroekonomi dan Suku Bunga
Stabilitas ekonomi domestik, inflasi yang terkendali, serta arah suku bunga yang lebih rendah berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar IPO. Lingkungan makro yang mendukung dapat meningkatkan minat investor sekaligus memberikan ruang valuasi yang lebih menarik bagi emiten.
Sentimen Investor dan Likuiditas Pasar
Selain faktor ekonomi, persepsi investor terhadap pasar modal Indonesia juga menjadi kunci. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tingkat likuiditas, serta persepsi risiko akan sangat menentukan keberhasilan pencatatan saham baru.
Tanpa perbaikan signifikan pada sentimen investor, potensi peningkatan IPO di 2026 dinilai belum akan optimal.
Prospek 2026: Peluang Ada, Tantangan Tetap Besar
Memasuki 2026, peluang peningkatan aktivitas IPO di BEI dinilai terbuka lebar. Namun, realisasinya sangat bergantung pada kombinasi berbagai faktor, mulai dari kondisi global, stabilitas domestik, hingga kesiapan emiten itu sendiri.
Pasar diperkirakan akan tetap selektif, dengan fokus pada perusahaan yang mampu menawarkan nilai tambah jangka panjang, tata kelola yang solid, serta transparansi tinggi. Dengan ekosistem yang lebih sehat dan investor yang semakin rasional, pasar IPO Indonesia berpotensi memasuki fase pertumbuhan yang lebih berkualitas pada 2026.







One Comment