Asosiasi industri mobil Jerman VDA dan serikat pekerja IG Metall meminta Uni Eropa meninjau ulang larangan mobil CO2 tahun 2035. Tantangan adopsi kendaraan listrik, infrastruktur terbatas, hingga pasokan baterai jadi hambatan utama.
Debat mengenai masa depan industri otomotif di Eropa semakin panas. Pada Kamis (11/9/2025), Asosiasi Industri Otomotif Jerman (VDA) bersama serikat pekerja logam IG Metall merilis pernyataan bersama yang mendesak Uni Eropa (UE) untuk meninjau ulang kebijakan ambisiusnya: larangan penjualan mobil berbahan bakar fosil pada 2035.
Kedua kelompok berpengaruh ini menyuarakan kekhawatiran bahwa target tersebut tidak realistis tanpa adanya koreksi kebijakan. Mereka menekankan bahwa regulasi CO2 harus dibuat lebih fleksibel agar transisi menuju kendaraan listrik dapat berjalan lebih terukur tanpa mengorbankan daya saing industri Eropa, khususnya Jerman.
Tantangan Besar Kendaraan Listrik
VDA dan IG Metall sepakat bahwa kendaraan listrik (EV) memang menjadi arah masa depan, tetapi perjalanan menuju target 2035 penuh hambatan. Beberapa faktor utama yang memperlambat adopsi EV antara lain:
-
Rantai pasokan baterai yang rapuh – Pasokan bahan baku seperti litium, kobalt, dan nikel masih sangat tergantung pada negara tertentu. Ketergantungan ini menimbulkan risiko geopolitik dan ekonomi yang besar.
-
Infrastruktur pengisian daya yang belum siap – Pertumbuhan stasiun pengisian daya di Eropa masih jauh dari cukup untuk mendukung lonjakan populasi mobil listrik. Banyak wilayah pedesaan bahkan belum memiliki infrastruktur dasar.
-
Biaya produksi tinggi – Harga kendaraan listrik masih relatif mahal dibandingkan mobil berbahan bakar fosil. Hal ini membuat penetrasi pasar lebih lambat dari proyeksi awal.
-
Ketidakpastian permintaan konsumen – Sebagian besar masyarakat masih ragu beralih ke EV karena keterbatasan jarak tempuh dan kekhawatiran soal daya tahan baterai.
Dalam pernyataan resmi, mereka menegaskan: “Dengan latar belakang ini, target untuk 2035 tidak lagi dapat dicapai tanpa koreksi jangka pendek.”
Transisi Energi: Tujuan Benar, Jalan Masih Sulit
Meskipun mendesak adanya penyesuaian target, baik VDA maupun IG Metall tidak menolak arah transisi energi. Mereka mengakui bahwa elektromobilitas adalah kunci utama menjaga daya saing industri otomotif Jerman.
Namun, kedua kelompok menekankan bahwa kebijakan harus lebih realistis. Jika UE bersikeras dengan jadwal 2035 tanpa mempertimbangkan hambatan struktural, maka risiko yang muncul adalah:
-
Penurunan daya saing industri Eropa dibandingkan dengan AS dan Tiongkok yang lebih fleksibel dalam kebijakan transisi energi.
-
Potensi kehilangan lapangan kerja besar-besaran di sektor otomotif dan turunannya.
-
Tertinggalnya inovasi teknologi akibat perusahaan terbebani target yang terlalu ketat.
Industri & Pekerja dalam Satu Suara
Kolaborasi antara VDA (asosiasi industri) dan IG Metall (serikat pekerja) dalam menyuarakan desakan ini menjadi sinyal kuat. Biasanya, kepentingan industri dan serikat pekerja tidak selalu sejalan, namun dalam isu larangan CO2 2035, keduanya menemukan kesamaan visi.
VDA melihat ancaman terhadap kelangsungan bisnis dan investasi jangka panjang, sementara IG Metall mengkhawatirkan nasib jutaan pekerja di sektor otomotif Jerman. Dengan demikian, suara gabungan keduanya menjadi tekanan politik yang signifikan bagi pemerintah Jerman dan lembaga UE.
Reaksi Uni Eropa dan Pemerintah Jerman
UE selama ini menegaskan komitmennya pada European Green Deal, yang menargetkan netralitas karbon pada 2050. Larangan kendaraan berbahan bakar fosil 2035 merupakan salah satu pilar utama. Namun, kritik yang semakin deras dari pelaku industri memaksa UE untuk menimbang ulang kebijakan.
Pemerintah Jerman sendiri berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, Jerman ingin mempertahankan reputasinya sebagai pemimpin dalam inovasi ramah lingkungan. Namun di sisi lain, industri otomotif adalah tulang punggung ekonomi Jerman, menyumbang jutaan lapangan kerja dan ekspor bernilai tinggi.
Jalan Tengah: Fleksibilitas Regulasi
VDA dan IG Metall mengusulkan agar UE mempertimbangkan fleksibilitas dalam regulasi CO2. Misalnya, dengan memberi ruang bagi:
-
Kendaraan hibrida plug-in sebagai solusi transisi jangka menengah.
-
Penggunaan bahan bakar sintetis (e-fuels) yang lebih ramah lingkungan.
-
Timeline bertahap sesuai kesiapan infrastruktur di tiap negara anggota UE.
Dengan langkah ini, UE tetap bisa menjaga ambisi hijau sekaligus memberi industri waktu lebih untuk beradaptasi.
Pernyataan bersama VDA dan IG Metall menambah bobot penolakan terhadap rencana larangan kendaraan penghasil CO2 pada 2035. Keduanya menegaskan bahwa meski arah transisi ke kendaraan listrik adalah keputusan tepat, target yang terlalu ambisius tanpa mempertimbangkan tantangan nyata justru bisa mengancam masa depan industri otomotif Eropa.
Uni Eropa kini berada di persimpangan jalan: tetap pada target ambisius 2035 atau menyesuaikan kebijakan agar lebih realistis. Apapun keputusannya, dampaknya akan sangat menentukan posisi daya saing industri otomotif Jerman dan Eropa di panggung global.






One Comment