Menjelang Santa Rally, IHSG diproyeksi menguji level 9.000 pada akhir 2025, didorong akumulasi asing, window dressing, dan sentimen global positif, meski risiko tetap ada.
MonetaPost – Pasar saham Indonesia memasuki fase akhir perdagangan 2025 dengan sentimen yang mulai membaik. Menjelang pergantian tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tanda-tanda penguatan, seiring munculnya ekspektasi Santa Claus Rally atau reli akhir tahun yang kerap terjadi di pasar saham global.
Dengan hanya menyisakan beberapa hari efektif perdagangan sebelum tutup tahun, pelaku pasar mulai berspekulasi bahwa IHSG berpeluang menguji level psikologis 9.000. Level ini dinilai ambisius, namun tetap realistis apabila didukung oleh kombinasi faktor domestik dan global yang kondusif.
Peran Investor Asing dalam Penguatan IHSG
Arus Dana Asing Mulai Mengalir
Salah satu pendorong utama optimisme pasar adalah kembalinya akumulasi investor asing. Arus beli bersih asing di pasar reguler menjadi sinyal bahwa minat terhadap aset berisiko di Indonesia mulai meningkat menjelang akhir tahun.
Masuknya dana asing ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap prospek pasar saham domestik, terutama setelah fase koreksi yang sempat terjadi pada pekan sebelumnya.
Saham Big Caps Jadi Motor Indeks
Penguatan IHSG sangat dipengaruhi oleh pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar. Sektor perbankan dan infrastruktur dinilai menjadi kontributor utama karena memiliki bobot signifikan dalam perhitungan indeks.
Jika saham-saham unggulan ini bergerak serempak, peluang IHSG untuk mencetak rekor tertinggi baru dinilai masih terbuka, bahkan sebelum menembus level 9.000.
Fenomena Window Dressing Menjelang Tutup Tahun
Strategi Manajer Investasi
Menjelang akhir tahun, fenomena window dressing kerap menjadi katalis tambahan bagi pasar saham. Manajer investasi biasanya melakukan penyesuaian portofolio untuk mempercantik kinerja laporan tahunan, sehingga mendorong pembelian saham-saham tertentu.
Praktik ini berpotensi meningkatkan likuiditas pasar dalam jangka pendek dan mendorong pergerakan indeks secara keseluruhan.
Dividen Jadi Daya Tarik Investor
Agenda pembagian dividen, khususnya dividen interim bernilai besar, juga menjadi magnet bagi investor. Emiten-emiten dengan rencana pembagian dividen jumbo dinilai mampu menarik minat beli, baik dari investor domestik maupun asing.
Faktor dividen ini tidak hanya memberikan potensi keuntungan langsung, tetapi juga memperkuat sentimen positif terhadap kinerja fundamental emiten.
Sentimen Global Ikut Mendukung Pasar
Suku Bunga Global Lebih Akomodatif
Dari sisi global, kebijakan moneter yang lebih longgar menjadi angin segar bagi pasar negara berkembang. Pemangkasan suku bunga oleh bank sentral utama dunia dinilai membuka ruang bagi aliran modal untuk kembali masuk ke pasar saham emerging market, termasuk Indonesia.
Lingkungan suku bunga yang lebih rendah cenderung meningkatkan daya tarik aset berisiko dibandingkan instrumen pendapatan tetap.
Stabilitas Pasar Global Jadi Kunci
Meskipun sentimen global relatif mendukung, pelaku pasar tetap mencermati dinamika ekonomi dan politik internasional. Stabilitas global menjadi faktor penting agar arus modal yang masuk dapat bertahan dan tidak bersifat sementara.
Risiko Tetap Membayangi Pergerakan IHSG
Potensi Aksi Ambil Untung
Di balik optimisme, risiko koreksi tetap perlu diwaspadai. Setelah mencatatkan penguatan signifikan sepanjang 2025, sebagian investor berpotensi melakukan aksi ambil untung untuk mengamankan kinerja portofolio tahunan.
Tekanan jual jangka pendek ini bisa membatasi ruang kenaikan IHSG, terutama jika tidak diimbangi dengan volume transaksi yang memadai.
Ketidakpastian Global Masih Jadi Faktor Risiko
Selain aksi ambil untung, ketidakpastian global juga masih membayangi pasar. Isu perdagangan internasional, kebijakan ekonomi negara besar, serta dinamika geopolitik berpotensi memicu volatilitas sewaktu-waktu.
Sentimen negatif dari luar negeri dapat dengan cepat memengaruhi pergerakan IHSG, mengingat keterkaitan pasar keuangan global yang semakin erat.
Kinerja IHSG dan Dinamika Transaksi
Pada awal pekan terakhir Desember, IHSG berhasil rebound setelah mengalami koreksi pada pekan sebelumnya. Penguatan ini terjadi meskipun aktivitas transaksi sempat menurun, mencerminkan sikap wait and see investor menjelang keputusan kebijakan penting dan libur akhir tahun.
Penurunan frekuensi dan volume transaksi menunjukkan bahwa pasar sempat berada dalam fase konsolidasi. Namun, kondisi ini juga dapat diartikan sebagai jeda sebelum pasar menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Menuju Akhir 2025: Optimisme dengan Kewaspadaan
Menjelang penutupan tahun, prospek IHSG menguji level 9.000 tetap terbuka dengan dukungan akumulasi asing, window dressing, dividen, serta sentimen global yang relatif positif. Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati berbagai risiko yang dapat memicu volatilitas.
Dengan kombinasi optimisme dan kehati-hatian, pasar saham Indonesia berpotensi menutup 2025 dengan kinerja solid, sekaligus menjadi pijakan awal memasuki 2026.






