MonetaPost – IHSG berhasil menjauhi zona merah dengan kenaikan 70 poin di tengah reli bursa Asia dan Wall Street. Optimisme pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed semakin memperkuat sentimen positif investor global.
IHSG Berakhir Menguat, Sektor Properti Jadi Bintang
Pasar saham Indonesia kembali menunjukkan kekuatan pada perdagangan Rabu, 10 September 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 70 poin atau 0,92% ke level 7.699, meninggalkan kekhawatiran sebelumnya soal tekanan eksternal.
Aktivitas perdagangan cukup solid, dengan volume transaksi mencapai 305,45 juta lot saham, menghasilkan nilai transaksi sekitar Rp15,67 triliun.
Dari sisi sektoral, saham properti memimpin dengan kenaikan 1,33%, memperlihatkan minat investor terhadap sektor yang dianggap mampu bertahan dalam jangka menengah. Sebaliknya, sektor teknologi menjadi yang paling lemah, setelah terkoreksi turun 1,05%.
Adapun daftar saham top gainers meliputi: PIPA, SLIS, UANG, VOKS, TCID, ITMA, dan CBRE. Sementara saham paling aktif diperdagangkan antara lain CBRE, BBCA, WOWS, ANTM, SLIS, BMRI, dan PIPA.
Sentimen dari Wall Street dan The Fed
Pergerakan positif IHSG sejalan dengan reli bursa Asia yang mengikuti jejak penguatan Wall Street. Indeks saham utama Amerika Serikat — S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average — semuanya ditutup pada rekor tertinggi sepanjang masa.
Penguatan ini dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menurunkan suku bunga pada pertemuan minggu depan. Menurut CME FedWatch Tool, mayoritas pelaku pasar memperkirakan pemangkasan setidaknya 25 basis poin, bahkan ada yang berspekulasi penurunan hingga 50 basis poin.
Namun, investor masih menanti rilis data penting, yakni inflasi produsen (PPI) dan inflasi konsumen (CPI), yang akan keluar Rabu dan Kamis. Kyle Rodda, analis senior Capital.com, mengingatkan bahwa kejutan inflasi positif bisa mengurangi probabilitas pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
Menurutnya, pelemahan cepat di pasar tenaga kerja AS menjadi alasan utama ekspektasi pelonggaran agresif. Pasar menilai kebijakan ini bisa menjadi bantalan agar ekonomi AS terhindar dari resesi, tercermin dari tingginya selera risiko investor.
Faktor Politik dan Geopolitik yang Mempengaruhi Sentimen
Selain faktor makroekonomi, investor juga mencermati dinamika politik. Salah satunya adalah putusan pengadilan AS yang sementara waktu memblokir langkah Presiden Donald Trump untuk mencopot Gubernur The Fed, Lisa Cook. Kasus hukum ini berpotensi bergulir hingga Mahkamah Agung, dan menjadi ujian serius bagi independensi bank sentral AS.
Di Asia, pasar juga menunggu kepastian mengenai pengganti Shigeru Ishiba sebagai Perdana Menteri Jepang, serta daya tahan pemerintahan baru di Prancis yang sudah melahirkan lima perdana menteri dalam kurun waktu dua tahun.
Indeks Saham Asia Kompak Menguat
Sejumlah bursa utama Asia bergerak positif:
-
Nikkei 225 (Jepang): +0,87% ke 43.837
-
Topix (Jepang): +0,60% ke 3.140
-
Shanghai Composite (China): +0,13% ke 3.812
-
Shenzhen Component (China): +0,38% ke 12.557
-
CSI300 (China): +0,21% ke 4.445
-
Hang Seng (Hong Kong): +1,01% ke 26.200
-
Kospi (Korsel): +1,67% ke 3.314
-
Taiex (Taiwan): +1,36% ke 25.192
-
ASX200 (Australia): +0,31% ke 8.830
Pergerakan Mata Uang Asia
Pasar mata uang Asia juga bergerak dinamis:
-
Yen Jepang turun 0,08% menjadi 147,53/USD
-
Dolar Singapura (SGD) melemah 0,09% menjadi 1,2839/USD
-
Dolar Australia (AUD) naik 0,18% menjadi 0,6597/USD
-
Rupiah menguat 0,07% ke 16.469/USD
-
Rupee India melemah 0,03% ke 88,1425/USD
-
Yuan China naik 0,03% ke 7,1214/USD
-
Ringgit Malaysia merosot 0,32% ke 4,2185/USD
-
Baht Thailand turun 0,25% ke 31,819/USD
Khusus untuk rupiah, penguatan tipis menunjukkan stabilitas di tengah ketidakpastian global.
Bursa Eropa Ikut Menguat
Pasar Eropa juga menunjukkan tren positif. Indeks STOXX 600 naik 0,4% ke level 554,9 poin, mendekati posisi tertinggi dua minggu terakhir.
Sektor ritel memimpin reli setelah Inditex, pemilik merek Zara, melaporkan percepatan penjualan yang melampaui ekspektasi. Saham Inditex melonjak 6%. Di sisi lain, Novo Nordisk, produsen obat Wegovy, juga naik setelah mengumumkan restrukturisasi yang mencakup pemutusan hubungan kerja.
Harga Minyak Naik Akibat Gejolak Timur Tengah
Harga minyak dunia ikut terdorong naik setelah kabar serangan Israel terhadap pimpinan Hamas di Qatar. Sentimen geopolitik ini menambah premi risiko pasar energi.
-
Brent crude naik 61 sen menjadi US$67 per barel
-
WTI (West Texas Intermediate) menguat 61 sen ke US$63,24 per barel
Menurut analis OANDA, Kelvin Wong, kenaikan harga ini lebih banyak didorong faktor geopolitik ketimbang fundamental pasar. Namun, prospek permintaan global yang melemah tetap membatasi lonjakan harga lebih lanjut.
Kinerja IHSG yang berhasil bertahan di zona hijau mencerminkan optimisme pasar Indonesia dalam mengikuti tren global. Sentimen positif dari Wall Street, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, serta reli bursa Asia memberikan dukungan kuat.
Meski demikian, investor masih harus waspada terhadap risiko inflasi, ketidakpastian politik global, serta potensi gejolak geopolitik yang bisa memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek.





One Comment