Home / Politik / IHSG Koreksi Akhir Tahun 0,55%

IHSG Koreksi Akhir Tahun 0,55%

tahun

IHSG melemah 0,55% ke 8.537,91 jelang akhir tahun. Saham penopang dan pemberat, aliran dana asing, sentimen KRAS dan SOHO, serta rekomendasi saham terbaru.

MonetaPost – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu, 24 Desember, di zona koreksi dengan penurunan 0,55% ke level 8.537,91. Pelemahan ini terjadi menjelang akhir tahun, di tengah kondisi pasar yang cenderung fluktuatif dan minim katalis besar. Meski demikian, pergerakan saham tidak sepenuhnya negatif karena masih terdapat sejumlah emiten yang mampu mencatatkan kenaikan signifikan.

Koreksi IHSG mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar, baik investor domestik maupun asing, yang mulai melakukan penyesuaian portofolio menjelang libur panjang dan penutupan buku akhir tahun. Aktivitas ambil untung (profit taking) menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan indeks secara keseluruhan.

Saham Penopang dan Pemberat IHSG

Saham yang Menguat Signifikan

Di tengah tekanan pasar, beberapa saham justru tampil sebagai penopang utama IHSG. Saham FILM mencatatkan lonjakan tertinggi dengan kenaikan 9,60%, mencerminkan minat beli yang kuat dari investor. Saham ASII turut menguat 1,92%, didorong oleh ekspektasi stabilitas kinerja emiten berkapitalisasi besar menjelang tahun baru. Selain itu, saham MORA naik 4,08% dan ikut menopang pergerakan indeks.

Kenaikan saham-saham tersebut menunjukkan bahwa investor masih selektif dalam memilih emiten dengan fundamental relatif solid atau memiliki sentimen jangka pendek yang positif, meskipun secara umum pasar sedang terkoreksi.

Saham yang Menekan Pergerakan Indeks

Sebaliknya, tekanan datang dari sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham BRPT terkoreksi 4,57%, sementara BRMS turun cukup dalam sebesar 6,06%. Saham DCII juga melemah 2,70% dan menjadi salah satu pemberat utama IHSG. Pelemahan saham-saham ini menahan potensi penguatan indeks secara keseluruhan, meskipun ada saham lain yang bergerak positif.

Aliran Dana Asing Masih Fluktuatif

Dari sisi aliran dana, investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp238,83 miliar di pasar reguler. Namun, jika dihitung secara keseluruhan di seluruh pasar, investor asing masih membukukan beli bersih mencapai Rp2,08 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan jual asing masih bersifat selektif dan tidak sepenuhnya mencerminkan arus keluar modal besar-besaran.

Pergerakan dana asing yang campuran ini mencerminkan strategi investor global yang cenderung menyesuaikan eksposur saham Indonesia, sambil tetap mempertahankan posisi pada emiten tertentu yang dinilai prospektif.

Pergerakan Sektoral: Mayoritas Melemah

Sektor dengan Tekanan Terbesar

Secara sektoral, delapan dari sebelas sektor di Bursa Efek Indonesia ditutup melemah. Sektor basic materials mencatat penurunan terdalam sebesar 1,59%, sejalan dengan koreksi sejumlah saham berbasis komoditas dan material dasar. Pelemahan sektor ini turut mempertegas sentimen hati-hati investor terhadap saham-saham siklikal.

Sektor yang Masih Bertahan

Di sisi lain, sektor properti menjadi satu-satunya sektor yang mencatatkan penguatan tertinggi, meski terbatas di 0,38%. Penguatan tipis ini menunjukkan adanya minat selektif pada saham properti, terutama yang dinilai memiliki valuasi menarik atau prospek penjualan yang stabil.

Sentimen Korporasi: KRAS dan SOHO

Dukungan Pendanaan untuk Krakatau Steel

Dari sisi korporasi, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk memperoleh fasilitas pinjaman pemegang saham hingga Rp4,93 triliun dari Danantara Asset Management. Fasilitas ini terdiri dari pinjaman modal kerja sebesar Rp4,18 triliun dengan tenor minimal lima tahun, serta pinjaman Rp752,81 miliar untuk program Golden Handshake dan penyehatan dana pensiun dengan jangka waktu minimal enam tahun.

Pendanaan ini dinilai penting untuk memperkuat likuiditas jangka menengah Krakatau Steel, mengingat arus kas operasional hingga sembilan bulan 2025 masih mencatatkan defisit dan posisi kas yang relatif terbatas. Pinjaman tersebut diharapkan mampu menopang operasional pabrik utama sekaligus mendukung keberlanjutan proses restrukturisasi kewajiban perseroan.

Dividen Interim Besar dari SOHO

Sementara itu, PT Soho Global Health Tbk memutuskan membagikan dividen interim tahun buku 2025 sebesar Rp33,10 per saham dengan total nilai mencapai Rp420,09 miliar. Dividen ini berasal dari laba bersih sembilan bulan 2025 sebesar Rp440,09 miliar, yang mencerminkan rasio pembagian dividen sekitar 95,5%.

Hingga September 2025, SOHO mencatatkan saldo laba ditahan yang kuat serta total ekuitas sebesar Rp2,84 triliun. Dengan kondisi tersebut, pembagian dividen dinilai tidak mengganggu kelangsungan usaha perseroan. Jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 6 Januari 2026, dengan pembayaran dividen paling lambat pada 22 Januari 2026.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Di tengah koreksi IHSG, analis Mega Capital Sekuritas merekomendasikan beberapa saham untuk dicermati investor jangka pendek:

  • HRTA: Buy 2030–2050 | Target Price 2090–2200 | Stop Loss 1930
  • ASII: Buy 6575–6625 | Target Price 6725–6900 | Stop Loss 6325
  • BBKP: Buy 75–77 | Target Price 79–81 | Stop Loss 72
  • GPRA: Buy 138–140 | Target Price 142–146 | Stop Loss 131
  • DKFT: Buy 705–715 | Target Price 730–740 | Stop Loss 670

Rekomendasi ini mencerminkan strategi selektif di tengah pasar yang masih bergejolak menjelang akhir tahun.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *