IHSG berbalik arah dan ditutup melemah 0,21% ke level 8.008,43 setelah sempat mencetak rekor intraday. Simak analisis lengkap faktor pelemahan IHSG, pergerakan saham, hingga nilai transaksi Rp21,76 triliun.
MonetaPost – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan volatilitas tinggi pada perdagangan Kamis (18/9). Setelah sempat mencatatkan rekor intraday, indeks akhirnya tergelincir ke zona merah dan ditutup melemah. Berdasarkan data RTI, IHSG ditutup di level 8.008,43, turun 12,74 poin atau sekitar 0,21 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Koreksi IHSG kali ini mencerminkan sikap hati-hati investor dalam menghadapi dinamika pasar global maupun domestik. Meski secara teknikal indeks masih berada di kisaran psikologis 8.000, tekanan jual mulai terlihat menjelang penutupan perdagangan.
Perjalanan IHSG Sepanjang Hari
Pergerakan IHSG sepanjang hari berlangsung dinamis. Indeks sempat menyentuh titik tertinggi di level 8.068,00, namun juga jatuh ke level terendah 7.993,51. Fluktuasi ini menunjukkan adanya aksi ambil untung (profit taking) setelah kenaikan tajam di sesi sebelumnya.
Volume perdagangan tercatat cukup besar, mencapai 44,43 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp21,76 triliun. Tingginya frekuensi perdagangan, yakni 2.435.700 kali, memperlihatkan bahwa aktivitas pasar tetap aktif meski indeks berakhir negatif.
Dari sisi kinerja saham, mayoritas emiten mengalami pelemahan. Rinciannya, 261 saham menguat, 410 saham melemah, dan 131 stagnan. Hal ini menandakan bahwa tekanan jual tidak hanya terbatas pada saham-saham tertentu, melainkan terjadi secara luas di berbagai sektor.
Sesi Pagi Sempat Menguat
Menariknya, IHSG sebenarnya dibuka positif pada sesi pagi. Pada pembukaan, indeks berada di level 8.065,74 dan sempat naik ke 8.040,41 atau menguat 0,21 persen sekitar pukul 09.10 WIB. Namun, seiring berjalannya perdagangan, sentimen negatif mulai mendominasi hingga membuat indeks berbalik arah.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa investor cenderung ragu untuk melanjutkan aksi beli setelah reli panjang yang mendorong IHSG ke rekor tertinggi. Faktor eksternal dan ketidakpastian ekonomi global menjadi alasan utama di balik sikap wait and see pelaku pasar.
Faktor yang Menekan IHSG
Beberapa faktor diperkirakan menjadi pendorong pelemahan IHSG hari ini:
-
Aksi Ambil Untung (Profit Taking)
Setelah IHSG mencetak rekor, sebagian investor memilih mengamankan keuntungan. Hal ini wajar terjadi dalam siklus perdagangan, apalagi ketika indeks mendekati level psikologis penting. -
Sentimen Global
Pergerakan bursa saham global belakangan ini cukup berfluktuasi, terutama akibat pernyataan Federal Reserve (The Fed) yang masih menahan kebijakan suku bunga. Penguatan dolar AS juga menambah tekanan bagi pasar negara berkembang. -
Ketidakpastian Domestik
Faktor domestik seperti kondisi fiskal, inflasi, serta isu-isu politik menjelang transisi pemerintahan ikut menjadi bahan pertimbangan investor. Kekhawatiran terkait arah kebijakan ekonomi ke depan membuat sebagian pelaku pasar lebih berhati-hati.
Analisis Teknikal IHSG
Secara teknikal, level 8.000 masih menjadi support psikologis bagi IHSG. Jika level ini mampu bertahan dalam beberapa hari perdagangan berikutnya, ada peluang indeks kembali rebound. Namun, jika tekanan jual berlanjut dan level support ini ditembus, IHSG berpotensi turun lebih dalam menuju area 7.950.
Sementara itu, resistance terdekat berada di level 8.068. Jika IHSG mampu menembus titik ini, peluang penguatan lebih lanjut bisa terbuka, meski tetap dibayangi aksi jual lanjutan.
Prospek Jangka Pendek
Dalam jangka pendek, IHSG kemungkinan besar masih akan bergerak variatif dengan kecenderungan sideways. Investor asing cenderung wait and see sambil memantau arah kebijakan moneter global, terutama terkait potensi pemangkasan suku bunga oleh The Fed.
Sementara itu, investor domestik akan menyoroti kinerja emiten kuartal III-2025 yang segera dirilis dalam beberapa minggu ke depan. Laporan keuangan yang solid bisa menjadi katalis positif bagi IHSG untuk kembali menguat.
Strategi Investor
Bagi investor jangka panjang, koreksi IHSG dapat dimanfaatkan sebagai peluang akumulasi. Saham-saham berfundamental kuat di sektor perbankan, konsumer, energi, dan teknologi masih memiliki prospek menjanjikan seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif stabil.
Namun, bagi trader jangka pendek, penting untuk berhati-hati menghadapi volatilitas. Memasang batas bawah (cut loss) serta menetapkan target keuntungan realistis menjadi kunci agar tidak terjebak dalam koreksi lebih dalam.
Pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini menegaskan kembali bahwa pasar saham tidak selalu bergerak dalam tren linier. Setelah mencetak rekor, indeks justru kembali tertekan oleh aksi jual dan ketidakpastian global.
Meskipun demikian, level psikologis 8.000 masih menjadi penopang utama yang menjaga optimisme investor. Jika mampu bertahan di atas level ini, IHSG masih berpeluang untuk kembali rebound dalam waktu dekat.
Dengan volume perdagangan yang masih tinggi dan likuiditas pasar yang terjaga, peluang investasi di bursa saham Indonesia tetap menarik. Bagi investor yang bijak, setiap koreksi justru bisa menjadi kesempatan untuk memperkuat portofolio dengan saham-saham berkualitas.






One Comment