Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) naik 206% sepanjang 2025 dan diproyeksikan bisa tembus Rp150 ribu berkat ekspansi agresif ke telekomunikasi, digital, dan energi baru terbarukan. Simak analisis lengkap peluang dan risikonya.
MonetaPost – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), bagian dari raksasa konglomerasi Grup Sinar Mas, sukses mencatatkan performa gemilang di pasar modal sepanjang 2025. Harga sahamnya meroket 206%, menjadikannya salah satu saham dengan return tertinggi tahun ini.
Kenaikan spektakuler ini tidak hanya didorong oleh bisnis batubara yang masih menjadi tulang punggung pendapatan, melainkan juga oleh ekspansi strategis ke sektor non-batubara. Fokus baru DSSA adalah telekomunikasi, infrastruktur digital, dan energi baru terbarukan (EBT), sektor yang dinilai lebih berkelanjutan dan prospektif jangka panjang.
Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) bahkan memprediksi harga saham DSSA berpotensi menembus Rp150 ribu per lembar, naik sekitar 56% dari level Rp96.250 saat riset dirilis.
Transformasi Bisnis: Dari Batubara ke Digital dan Telekomunikasi
Meski pada kuartal I-2025 bisnis batubara masih menyumbang 90% pendapatan, DSSA gencar memperluas sayapnya ke sektor telekomunikasi dan digital. Manajemen menargetkan kontribusi non-batubara mencapai 30% dalam 3–5 tahun ke depan.
Pendorong utama pertumbuhan berasal dari MyRepublic, layanan internet berbasis fiber optic. Pada kuartal I-2025, pelanggan MyRepublic sudah mencapai 914 ribu rumah tangga dengan jangkauan 6,8 juta rumah di 70 kota besar Indonesia.
MyRepublic kini menempati posisi kedua penyedia internet fiber-to-home di Indonesia, hanya berada di bawah IndiHome. Dengan permintaan internet rumah tangga yang terus melonjak, potensi pertumbuhan MyRepublic masih sangat besar.
Selain itu, bisnis pusat data melalui SM+ juga menunjukkan kinerja impresif. Saat ini DSSA telah mengoperasikan kapasitas 10 MW, sementara tambahan 18 MW sedang dalam tahap pembangunan. Lonjakan kebutuhan data seiring pesatnya digitalisasi nasional menjadikan sektor ini sebagai mesin pertumbuhan baru DSSA.
Sinergi Ekosistem Grup Sinar Mas
DSSA juga memaksimalkan dukungan ekosistem Grup Sinar Mas. Perusahaan memiliki satelit berkapasitas 310 Gbps yang dapat mendukung konektivitas MyRepublic. Tak hanya itu, potensi kolaborasi dengan platform fintech yang sudah memiliki 100 juta pengguna memberi peluang sinergi lintas sektor yang bisa memperkuat daya saing.
Kolaborasi ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menciptakan integrasi layanan digital yang luas, mulai dari internet rumah, pusat data, hingga keuangan digital.
Ekspansi ke Energi Baru Terbarukan (EBT)
Selain telekomunikasi, DSSA juga serius masuk ke sektor energi hijau. Portofolio EBT DSSA meliputi proyek panas bumi dan panel surya.
Untuk panas bumi, DSSA menggarap lapangan di Cipanas, Cisolok, Nage, Jambu, Sumatra Barat, dan Sulawesi Tengah dengan total kapasitas mencapai 440 MW. Proyek ini berpotensi menjadi sumber pendapatan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Sementara di energi surya, DSSA memiliki pabrik panel berkapasitas 1 GW yang bisa ditingkatkan menjadi 2 GW. Selain itu, DSSA juga mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 40 MWp.
Langkah ini selaras dengan tren global menuju energi bersih sekaligus memperkuat posisi DSSA sebagai pemain energi berkelanjutan di Indonesia.
Prospek Saham dan Rekomendasi Analis
Samuel Sekuritas merekomendasikan speculative buy untuk saham DSSA dengan target harga Rp150 ribu. Katalis positif utama adalah:
-
Kenaikan keanggotaan MyRepublic yang memperluas jangkauan bisnis digital.
-
Ekspansi pusat data SM+ seiring meningkatnya permintaan data.
-
Diversifikasi bisnis ke energi hijau yang mendukung keberlanjutan jangka panjang.
-
Masuknya saham DSSA ke MSCI Indonesia Global Standard Index, yang diprediksi meningkatkan likuiditas saham sekaligus menarik lebih banyak investor institusional dan asing.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meski prospeknya menjanjikan, DSSA tetap menghadapi sejumlah risiko yang bisa mempengaruhi kinerja saham, di antaranya:
-
Persetujuan izin pembangunan pusat data yang bisa memakan waktu.
-
Tantangan dalam mengeksekusi proyek energi terbarukan.
-
Fluktuasi harga batubara yang masih menjadi penyumbang utama pendapatan.
Investor yang tertarik masuk ke saham DSSA disarankan memperhatikan dinamika tersebut sebelum mengambil keputusan.
Transformasi DSSA dari perusahaan berbasis batubara menuju pemain telekomunikasi, digital, dan energi baru terbarukan menandai langkah besar menuju keberlanjutan bisnis. Dengan dukungan penuh ekosistem Grup Sinar Mas, potensi pertumbuhan jangka panjangnya dinilai sangat kuat.
Lonjakan harga saham sebesar 206% sepanjang 2025 menjadi bukti kepercayaan pasar terhadap strategi ini. Dengan target harga Rp150 ribu, saham DSSA berpotensi tetap menarik, khususnya bagi investor dengan profil risiko agresif yang mencari peluang spekulatif berimbal hasil tinggi.







One Comment