Ketegangan China–Jepang makin memanas. Travel warning meluas dan dunia usaha cemas karena potensi gangguan perdagangan dan rantai pasok.
MonetaPost – Ketegangan diplomatik antara China dan Jepang kembali memanas, memicu kekhawatiran bahwa perselisihan politik ini dapat merembet menjadi masalah ekonomi yang jauh lebih besar. Pelaku usaha di kedua negara kini waswas, mengingat hubungan perdagangan bilateral selama ini menjadi salah satu pilar penting rantai pasok global, khususnya di sektor teknologi, otomotif, dan logam tanah jarang.
Ketegangan terbaru dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang secara terbuka mengaitkan potensi krisis di Selat Taiwan dengan kemungkinan pengerahan pasukan Jepang. Beijing menganggap pernyataan tersebut sebagai provokasi yang dapat meningkatkan risiko konflik bersenjata. Respons keras China menunjukkan bahwa hubungan kedua negara tengah berada dalam fase sensitif.
Melansir Business Mirror, Direktur Jenderal Departemen Urusan Asia Kementerian Luar Negeri China, Lu Jinsong, menyampaikan ketidakpuasannya setelah bertemu dengan diplomat Jepang, Masaaki Kanai, pada Selasa lalu. Upaya awal untuk meredakan situasi tidak menghasilkan kemajuan berarti, sehingga ketegangan antarkedua negara terus meningkat.
Travel Warning China Pukul Pariwisata Jepang
Salah satu dampak langsung dari memburuknya hubungan diplomatik ini adalah meluasnya peringatan perjalanan (travel warning) yang diumumkan Beijing kepada warga negaranya. Pemerintah China meminta warganya menunda atau menghindari perjalanan non-esensial ke Jepang.
Travel warning tersebut memicu efek domino:
- Agen perjalanan di kedua negara membatalkan paket wisata yang sudah dipesan.
- Saham-saham sektor pariwisata dan ritel Jepang anjlok tajam menyusul kekhawatiran akan berkurangnya kunjungan wisatawan China, yang selama ini menjadi penyumbang pendapatan terbesar.
Tidak hanya masyarakat umum, perusahaan pelat merah (BUMN) China bahkan dilaporkan telah menginstruksikan karyawannya untuk menghindari perjalanan bisnis ke Jepang. Sikap ini menunjukkan bahwa Beijing ingin menegaskan ketidakpuasan diplomatiknya dengan dampak ekonomi yang nyata.
Ancaman Senjata Perdagangan Kembali Mengemuka
Ketegangan politik antara China dan Jepang bukanlah hal baru. Namun, kekhawatiran terbesar komunitas bisnis adalah potensi penggunaan perdagangan sebagai alat tekanan politik, sesuatu yang pernah dilakukan Beijing pada sengketa sebelumnya.
Beberapa tahun lalu, ketika sengketa wilayah Laut China Timur memuncak, China sempat memblokir pasokan logam tanah jarang ke Jepang. Padahal, industri Jepang sangat bergantung pada pasokan mineral tersebut untuk produksi kendaraan listrik, elektronik, hingga komponen semikonduktor.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa hal serupa dapat terjadi kembali.
Tatsuo Yasunaga, Ketua Dewan Perdagangan Luar Negeri Jepang, memperingatkan bahwa ketegangan saat ini berpotensi mengancam stabilitas rantai pasok. Menurutnya, perusahaan harus mulai mempertimbangkan mitigasi risiko jika konflik diplomatik semakin melebar.
“Kita tidak dapat mengabaikan kemungkinan bahwa masalah ini dapat menyebabkan ketidakamanan pasokan baru untuk logam tanah jarang,” ujar Yasunaga.
“Sebagai entitas bisnis, kami akan meminta tindakan yang tepat.”
Pernyataan ini mencerminkan kecemasan luas di kalangan industri Jepang, terutama perusahaan manufaktur yang sangat tergantung pada bahan baku dari China.
Implikasi Ekonomi Lebih Luas: Asia Tenggara Juga Terimbas
Jika ketegangan terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan dua negara, tetapi juga kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Jepang dan China merupakan mitra dagang utama bagi negara seperti Indonesia, Korea Selatan, dan Singapura.
Beberapa potensi dampak lanjutan:
1. Rantai pasok terganggu
Gangguan pada logam tanah jarang, komponen elektronik, dan bahan baku industri lain dapat mempengaruhi produksi manufaktur di Asia.
2. Investasi asing bisa tertahan
Investor cenderung menahan ekspansi ketika ketidakpastian geopolitik meningkat.
3. Pasar keuangan lebih volatil
Indeks saham di Asia biasanya sensitif terhadap sentimen geopolitik, terutama jika melibatkan dua kekuatan ekonomi besar seperti China dan Jepang.
4. Industri pariwisata Asia bisa menurun
Jika travel warning meluas ke negara lain, pemulihan sektor pariwisata pascapandemi berpotensi kembali tersendat.
Prospek ke Depan
Para analis menilai bahwa penyelesaian konflik diplomatik ini tidak akan mudah. Mengingat posisi geopolitik Taiwan yang sensitif, serta meningkatnya ketegangan antara China dan sekutu-sekutu AS di Asia, setiap komentar dari pemimpin negara dapat memicu respons keras.
Sementara itu, pasar menunggu apakah Beijing dan Tokyo akan mengadakan pertemuan tingkat tinggi dalam waktu dekat untuk meredakan perselisihan. Dunia usaha berharap dialog politik dapat kembali dibuka agar hubungan ekonomi yang telah terjalin selama puluhan tahun tidak terganggu lebih jauh.
Namun jika ketegangan terus meningkat, risiko perang dagang jilid baru antara China dan Jepang semakin sulit dihindari.







One Comment