Bursa Asia dibuka beragam jelang Tahun Baru 2026. Jepang melemah, Korea Selatan menguat, harga perak cetak rekor, dan Wall Street masih solid secara mingguan.
MonetaPost – Bursa saham Asia-Pasifik dibuka dengan pergerakan beragam pada perdagangan Senin, 29 Desember 2025. Investor memulai pekan terakhir perdagangan tahun ini dengan sikap cenderung hati-hati, seiring minimnya katalis besar menjelang pergantian tahun. Aktivitas transaksi juga relatif terbatas karena sebagian pelaku pasar mulai mengurangi eksposur risiko dan melakukan penyesuaian portofolio akhir tahun.
Sentimen pasar yang mixed mencerminkan kombinasi antara aksi ambil untung, optimisme selektif terhadap prospek 2026, serta kehati-hatian terhadap ketidakpastian global. Pergerakan indeks utama di kawasan Asia menunjukkan arah yang tidak seragam, menandakan investor masih menimbang peluang dan risiko secara seimbang.
Pergerakan Bursa Utama Asia-Pasifik
Jepang Tertekan Aksi Profit Taking
Di Jepang, indeks acuan Nikkei 225 dibuka melemah 0,55%, sementara indeks Topix turun 0,26%. Pelemahan ini dipicu oleh aksi profit taking setelah reli yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Saham-saham berkapitalisasi besar dan sektor eksportir cenderung terkoreksi, seiring penguatan yen yang menekan prospek pendapatan emiten berbasis ekspor.
Investor Jepang juga masih mencermati arah kebijakan moneter global dan potensi dampaknya terhadap arus modal. Menjelang akhir tahun, pelaku pasar memilih untuk bersikap defensif, terutama pada saham-saham yang telah mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang 2025.
Korea Selatan Bergerak Positif
Berbeda dengan Jepang, pasar saham Korea Selatan justru dibuka menguat. Indeks Kospi naik 0,62%, sementara indeks Kosdaq menguat 0,19%. Penguatan ini didorong oleh minat beli pada saham-saham teknologi dan manufaktur, yang dinilai memiliki prospek stabil memasuki tahun 2026.
Optimisme investor di Korea Selatan juga didukung oleh ekspektasi pemulihan permintaan global serta potensi penurunan suku bunga di sejumlah negara maju. Meski demikian, kenaikan indeks masih tergolong moderat karena investor tetap berhati-hati terhadap volatilitas jangka pendek.
Lonjakan Harga Perak Jadi Sorotan
Perak Tembus Rekor Baru
Dari pasar komoditas, harga perak spot menjadi sorotan utama setelah melonjak ke rekor tertinggi baru di atas US$80 per ons. Kenaikan tajam ini didorong oleh aksi beli spekulatif serta kondisi pasokan yang semakin ketat. Lonjakan harga perak mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset alternatif di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Kondisi pasokan yang terbatas membuat pergerakan harga perak menjadi lebih sensitif terhadap peningkatan permintaan. Ketika minat beli meningkat, harga cenderung bergerak lebih agresif dibandingkan komoditas lain yang memiliki likuiditas dan persediaan lebih besar.
Prospek Perak Menuju 2026
Menurut pandangan pelaku pasar, reli harga perak sepanjang 2025 mencerminkan menipisnya persediaan yang diperdagangkan secara bebas. Hal ini memperbesar potensi volatilitas harga ketika permintaan meningkat, baik dari investor finansial maupun sektor industri.
Analis menilai perak masih mencerminkan prospek makroekonomi 2026 yang relatif lebih positif. Potensi penurunan suku bunga global dan pelemahan dolar Amerika Serikat dinilai dapat meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai. Selain itu, permintaan industri, khususnya dari sektor teknologi dan energi terbarukan, turut menopang prospek jangka menengah perak.
Wall Street dan Dampaknya ke Asia
Kontrak Berjangka AS Bergerak Datar
Sementara itu, kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak relatif datar pada awal perdagangan Asia. Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see investor global setelah Wall Street mencatatkan pergerakan yang kuat pada pekan sebelumnya. Minimnya katalis baru membuat pasar cenderung bergerak terbatas menjelang pergantian tahun.
Stabilnya kontrak berjangka AS memberikan sinyal netral bagi pasar Asia, sehingga pergerakan indeks di kawasan ini lebih dipengaruhi oleh faktor domestik dan sentimen regional.
Kinerja Indeks AS Akhir Pekan Lalu
Pada perdagangan Jumat waktu setempat, indeks S&P 500 sempat mencetak rekor tertinggi sebelum akhirnya ditutup melemah tipis 0,03% ke level 6.929,94. Indeks ini sebelumnya sempat menyentuh level 6.945,77, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi dan kinerja korporasi.
Nasdaq Composite ditutup melemah 0,09% ke 23.593,10, sementara Dow Jones Industrial Average turun 20,19 poin atau 0,04% ke 48.710,97. Meski ditutup melemah tipis, pergerakan indeks-indeks utama AS masih menunjukkan ketahanan pasar saham menjelang akhir tahun.
Kinerja Mingguan Masih Solid
Secara mingguan, indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan 1,4% dan menjadi penguatan keempat dalam lima pekan terakhir. Kinerja positif ini menunjukkan konsistensi tren naik pasar saham AS sepanjang akhir 2025. Indeks Dow Jones dan Nasdaq juga sama-sama mencatatkan kenaikan lebih dari 1% sepanjang pekan lalu.
Penguatan mingguan Wall Street turut memberikan sentimen positif bagi pasar global, meskipun dampaknya ke Asia cenderung terbatas karena investor regional memilih bersikap selektif. Menjelang 2026, fokus pasar diperkirakan akan beralih pada prospek kebijakan moneter, pertumbuhan ekonomi global, serta dinamika geopolitik.
Outlook Pasar Jelang 2026
Memasuki hari-hari terakhir perdagangan 2025, pasar Asia diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan volume transaksi yang relatif menurun. Investor cenderung menahan diri sambil menunggu arah pasar yang lebih jelas di awal tahun baru.
Dengan kombinasi sentimen global yang relatif stabil, reli komoditas seperti perak, serta kinerja Wall Street yang solid, pasar Asia memiliki peluang untuk memulai 2026 dengan nada yang lebih konstruktif. Namun, volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi, terutama di tengah minimnya katalis dan aktivitas akhir tahun.






