Home / Ekonomi / Banjir Sumatera 2025 Ancam IHSG: Risiko Inflasi & Strategi Saham

Banjir Sumatera 2025 Ancam IHSG: Risiko Inflasi & Strategi Saham

banjir

Banjir Sumatera 2025 ganggu pasokan komoditas, picu risiko inflasi, dan tekan IHSG. Simak analisis pasar serta 4 rekomendasi saham IPOT.

MonetaPost – Banjir Sumatera ancam IHSG menjelang akhir tahun 2025. Menurut analisis PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), banjir besar yang melanda tiga wilayah utama di Sumatera menimbulkan gangguan signifikan terhadap pasokan komoditas strategis seperti sawit, karet, dan gula. Ketiga komoditas ini merupakan elemen vital dalam rantai pasok industri domestik, sehingga disrupsi distribusi berpotensi memicu efek domino terhadap stabilitas harga nasional.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena terjadi pada periode penting menjelang penutupan tahun, saat pasar modal biasanya dipengaruhi sentimen positif dari peningkatan konsumsi Natal dan Tahun Baru. Namun, banjir yang menyebabkan hambatan logistik dan terganggunya akses transportasi antardaerah dapat membatasi pasokan, mendorong kenaikan biaya produksi, dan pada akhirnya memicu inflasi, terutama pada kelompok volatile food. Jika tekanan inflasi meningkat terlalu tajam, ruang gerak Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas harga dapat menjadi semakin terbatas.

Gangguan Pasokan Komoditas dan Risiko Inflasi

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Iman Gunadi, menjelaskan bahwa dampak banjir tidak hanya berupa kerusakan fisik, tetapi juga gangguan logistik yang signifikan. Komoditas seperti sawit dan karet yang selama ini menjadi penopang ekspor maupun kebutuhan domestik menjadi terhambat pengirimannya. Begitu pula dengan komoditas gula yang sangat sensitif terhadap perubahan pasokan.

Menurut Iman, ada beberapa konsekuensi utama dari terhambatnya distribusi komoditas tersebut:

  1. Kenaikan harga bahan pokok. Dengan pasokan berkurang, harga produk pangan berbasis komoditas perkebunan berpotensi meningkat dalam waktu cepat.
  2. Biaya logistik melonjak. Jalan rusak, akses distribusi tertutup, dan kebutuhan penggunaan rute alternatif meningkatkan ongkos transportasi.
  3. Disrupsi rantai pasok nasional. Industri makanan, minuman, dan barang konsumsi berpotensi terdampak karena pasokan bahan baku yang tidak stabil.
  4. Tekanan inflasi volatile food. Lonjakan ini dapat memperburuk sentimen pasar karena inflasi yang terlalu tinggi bisa menghambat pengambilan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Jika inflasi naik pada periode ketika IHSG biasanya mendapat dorongan dari konsumsi akhir tahun, sentimen pasar dapat bergerak semakin konservatif. Kekhawatiran ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.

Kondisi IHSG dan Arus Dana Asing

Di tengah ketidakpastian tersebut, IHSG masih menutup perdagangan pada pekan 24–28 November 2025 dengan penguatan. Indeks berada pada level 8.508,71 atau naik 1,12% dibandingkan pekan sebelumnya. Lonjakan volume transaksi harian juga memberikan kontribusi terhadap penguatan indeks.

Namun, di sisi lain, investor asing mencatatkan capital outflow sebesar Rp 765 miliar sepanjang pekan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa investor global masih berhati-hati terhadap kondisi domestik meskipun indeks terlihat menguat secara teknikal.

Beberapa saham mencatatkan net buy tertinggi, terutama saham-saham dengan kapitalisasi besar dan yang masuk dalam daftar rebalancing MSCI. Saham-saham tersebut meliputi BRMS, BMRI, PTRO, BREN, dan RAJA. Masing-masing saham mengantongi inflow yang signifikan, menunjukkan adanya penyesuaian portofolio oleh investor institusi global.

Iman menilai bahwa arus keluar asing tetap menjadi sinyal peringatan. Walaupun penguatan IHSG memberikan gambaran optimistis, dana asing masih mengambil posisi wait and see terhadap stabilitas domestik, terutama setelah banjir yang berpotensi menimbulkan tekanan inflasi dan disrupsi pasokan.

Sentimen Global yang Menggerakkan Pasar

Sentimen global turut memainkan peran besar terhadap pergerakan pasar modal Indonesia. Harapan akan pivot kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) menjadi salah satu faktor dominan yang menggerakkan pasar sepanjang pekan tersebut.

Pelaku pasar menantikan beberapa data ekonomi penting dari Amerika Serikat, khususnya:

  • ISM Manufacturing PMI
  • PCE Price Index
  • Core PCE Year-on-Year

Core PCE diperkirakan turun menuju 2,8 persen, yang dapat menandakan melemahnya tekanan inflasi di AS. Jika data tersebut menunjukkan tren perlambatan ekonomi AS, peluang The Fed untuk menurunkan suku bunga semakin besar. Hal ini dapat memicu arus modal kembali masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dampak Domestik: Window Dressing & Efek Nataru

Secara historis, akhir tahun menjadi periode positif bagi IHSG berkat momentum window dressing dan peningkatan konsumsi masyarakat. Belanja pemerintah seperti pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) dan penyaluran bantuan sosial menambah likuiditas dalam negeri.

Sektor-sektor yang biasanya diuntungkan menjelang akhir tahun antara lain:

  • Konsumer
  • Ritel
  • Perdagangan
  • Transportasi

Meski demikian, banjir Sumatera menjadi risiko baru yang harus diperhitungkan. Gangguan pasokan, kenaikan biaya logistik, dan potensi inflasi dapat menahan potensi penguatan IHSG jika tidak cepat tertangani.

Risiko Banjir Sumatera dan Ancaman ke Sektor Komoditas

Wilayah yang terdampak banjir merupakan sentra utama komoditas Indonesia, termasuk sawit, karet, dan gula. Dampaknya terlihat dalam dua jangka waktu:

Dampak jangka pendek:

  • Produksi menurun karena aktivitas perkebunan terganggu.
  • Harga pangan meningkat akibat keterbatasan pasokan.
  • Inflasi akhir tahun berisiko naik.
  • Sentimen negatif terhadap sektor komoditas di pasar saham.

Dampak jangka panjang:

  • Distribusi pasokan nasional menjadi tidak stabil.
  • Biaya bahan baku industri naik.
  • Tekanan terhadap sektor consumer goods dan agribisnis berlanjut.

Rekomendasi Saham Mingguan (IPOT)

1. MYOR – Buy (2180 | TP 2300 | SL 2120)
Emiten defensif konsumsi yang diuntungkan dari peningkatan permintaan akhir tahun. Produk consumer goods biasanya mengalami kenaikan volume penjualan menjelang Natal dan Tahun Baru.

2. SSIA – Buy on Pullback (1820–1865 | TP 2000 | SL 1770)
SSIA memiliki eksposur terhadap kawasan industri Subang Smartpolitan dan dapat menjadi penerima manfaat dari potensi peningkatan Foreign Direct Investment.

3. INET – Buy on Pullback (670 | TP 745 | SL 640)
Didukung ekspektasi penurunan risk-free rate global dan sentimen positif sektor teknologi, INET berpotensi mengalami re-rating.

4. Obligasi FR0100 – Buy
Obligasi ini direkomendasikan untuk memanfaatkan peluang penurunan yield domestik seiring meredanya tekanan suku bunga global.

Banjir Sumatera ancam IHSG melalui risiko inflasi dan gangguan pada pasokan komoditas strategis. Meskipun sentimen global menunjukkan potensi positif akibat ekspektasi pivot The Fed dan momentum window dressing, risiko domestik tetap harus dicermati.

Investor perlu memperhatikan perkembangan inflasi, neraca perdagangan, stabilitas pasokan komoditas, dan arus modal asing demi mengambil keputusan investasi yang tepat. Rekomendasi IPOT untuk pekan ini mencerminkan fokus pada sektor defensif, teknologi, serta obligasi sebagai instrumen mitigasi risiko.

Tagged:

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *