Banjir besar Sumatera tewaskan ratusan warga. Pemerintah menyerukan evaluasi total kebijakan lingkungan untuk mencegah bencana berulang.
MonetaPost – Krisis kemanusiaan yang melanda Sumatera dalam beberapa pekan terakhir memicu respons kuat dari pemerintah pusat. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), menyerukan perlunya Taubat Nasuha Banjir Sumatera, sebuah ajakan untuk melakukan evaluasi total atas kebijakan pengelolaan lingkungan di Indonesia. Baginya, bencana dahsyat yang menelan ratusan korban jiwa ini bukan sekadar fenomena alam, tetapi bentuk kelalaian manusia dalam merawat lingkungan serta lemahnya perencanaan mitigasi bencana dari waktu ke waktu.
Cak Imin menegaskan bahwa kondisi ini adalah alarm keras bagi pemerintah maupun masyarakat. “Kiamat bukan sudah dekat, kiamat sudah terjadi akibat kelalaian kita sendiri,” ujarnya dalam sambutan resmi. Pernyataan tersebut menjadi simbol penting bahwa bencana besar di Sumatera perlu dijadikan momentum untuk perubahan sistemik dan komprehensif.
Cak Imin Kirim Surat Evaluasi ke Tiga Menteri
Sebagai tindak lanjut konkret dari seruan tersebut, Cak Imin mengirim surat resmi kepada tiga kementerian strategis:
Menteri yang Menerima Surat Evaluasi
- Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni
- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia
- Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurrofiq
Surat tersebut berisi ajakan untuk melakukan evaluasi total kebijakan lingkungan, termasuk tata kelola hutan, pengawasan izin tambang, penggunaan lahan, serta efektivitas langkah mitigasi bencana. Bagi Cak Imin, evaluasi ini bukan sekadar rutinitas administratif, tetapi tindakan darurat atas situasi yang telah merenggut ratusan nyawa dan merusak ribuan infrastruktur penting.
Ia menyebut bahwa pemerintah harus menunjukkan komitmen nyata, bukan hanya retorika. Oleh karena itu, ia mendorong ketiga kementerian tersebut untuk menyusun langkah strategis yang lebih tegas, transparan, dan berpihak pada keberlanjutan lingkungan.
Makna Taubat Nasuha dalam Konteks Banjir Sumatera
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, taubat nasuha adalah konsep evaluasi total yang bersumber dari kesadaran penuh, refleksi mendalam, dan perubahan menyeluruh. Ketika dikaitkan dengan Taubat Nasuha Banjir Sumatera, makna ini berkembang menjadi dorongan moral dan administratif untuk memperbaiki segala bentuk kebijakan yang selama ini dianggap tidak memadai dalam menjaga kelestarian alam.
Aspek yang Dievaluasi dalam Taubat Nasuha
- pola pikir pemerintahan,
- perencanaan kebijakan,
- langkah-langkah penanganan lapangan,
- pengelolaan sumber daya alam secara menyeluruh.
Dengan demikian, konsep religius ini berubah menjadi instrumen evaluasi yang kuat demi mewujudkan tata kelola lingkungan yang lebih serius dan berkelanjutan.
Data Banjir Sumatera: 604 Korban Jiwa dan Ratusan Ribu Mengungsi
Bencana banjir dan longsor yang terjadi sejak 24 November menyebabkan kerusakan besar di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Berdasarkan data resmi, tercatat:
Dampak Korban
- 604 korban meninggal dunia,
- 151 dari Aceh,
- 165 dari Sumatera Barat,
- 283 dari Sumatera Utara.
- 464 korban hilang
- 2.600 warga luka-luka
- 1.500.000 warga terdampak
- 570.700 warga mengungsi
Kerusakan Infrastruktur
- 3.500 rumah rusak berat
- 4.100 rumah rusak sedang
- 20.500 rumah rusak ringan
- 282 fasilitas pendidikan rusak
- 271 jembatan rusak
Skala kerusakan ini menunjukkan bahwa bencana tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang terhadap pendidikan, ekonomi, mobilitas, serta kehidupan sosial masyarakat Sumatera.
Akar Masalah: Lingkungan Rusak dan Minimnya Perencanaan
Dalam penjelasannya, Cak Imin menyebut ada dua penyebab utama yang memperburuk dampak banjir Sumatera. Pertama, kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, seperti deforestasi masif, pembukaan lahan ilegal, hingga aktivitas tambang yang merusak ekosistem. Semua ini memperlemah daya dukung alam dan memperbesar risiko bencana.
Kedua, minimnya perencanaan mitigasi bencana. Sistem peringatan dini belum optimal, infrastruktur antisipasi banjir kurang memadai, dan koordinasi antara pusat dan daerah masih lemah. Akibatnya, masyarakat tidak memiliki cukup waktu ataupun fasilitas untuk menyelamatkan diri saat bencana datang.
Seruan Evaluasi Total Kebijakan Pemerintah
Untuk mencegah bencana serupa terulang, evaluasi total yang dimaksud oleh Cak Imin mencakup beberapa sektor penting.
Evaluasi Tata Kelola Kehutanan
- pembatasan izin penebangan,
- audit izin HGU,
- pengawasan reboisasi.
Evaluasi Kebijakan Energi dan Tambang
- pengawasan ketat wilayah rawan bencana,
- inspeksi keselamatan aktivitas tambang,
- perbaikan proses rehabilitasi lahan.
Evaluasi Langkah Mitigasi Bencana
- modernisasi sistem peringatan dini,
- peningkatan edukasi masyarakat,
- perbaikan jalur evakuasi,
- penguatan koordinasi antar lembaga.
Dampak Sosial Ekonomi Banjir Sumatera
Banjir besar ini memberikan dampak langsung pada stabilitas sosial dan ekonomi. Ribuan hektare sawah rusak, akses jalan terputus, banyak sekolah tidak dapat beroperasi, dan suplai logistik ke beberapa daerah terhambat. Banyak warga kehilangan rumah, pekerjaan, dan sumber pendapatan.
Para analis memprediksi kerugian mencapai angka triliunan rupiah, menandakan bahwa pemulihan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan strategi jangka panjang yang mempertimbangkan pembangunan berkelanjutan.
Upaya Relokasi dan Pemulihan
Cak Imin menekankan pentingnya pembangunan rumah relokasi yang aman, terutama setelah ia melihat langsung kerawanan tanah dan risiko longsor pada kunjungan ke Sukabumi. Selain relokasi, pemerintah juga perlu melakukan restorasi terhadap daerah tangkapan air, pemetaan ulang wilayah rawan bencana, dan meningkatkan kolaborasi antara pemerintah serta masyarakat untuk menjaga lingkungan.
Saatnya Taubat Nasuha Banjir Sumatera
Seruan Taubat Nasuha Banjir Sumatera menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan merupakan konsekuensi dari kebijakan dan perilaku manusia. Evaluasi total yang disampaikan Cak Imin bukan sekadar kritik, melainkan panggilan untuk perubahan nyata dalam tata kelola lingkungan, mitigasi bencana, dan kesadaran kolektif seluruh elemen bangsa. Tanpa langkah konkret dan komprehensif, tragedi serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali terjadi.







One Comment