Home / Ekonomi / AHY Kawal Distribusi 63 Ton Bantuan Pangan untuk Korban Banjir Aceh

AHY Kawal Distribusi 63 Ton Bantuan Pangan untuk Korban Banjir Aceh

ahy

AHY mengawal distribusi 63 ton bantuan pangan ke wilayah banjir Aceh yang terisolasi.

MonetaPost – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), turun langsung ke lapangan untuk mengawal proses distribusi bantuan pangan bagi warga yang terdampak banjir dan longsor di Provinsi Aceh. Dalam operasi tanggap darurat ini, pemerintah mengirimkan total 63 ton beras melalui jalur laut dan udara untuk menjangkau berbagai wilayah yang hingga kini terisolasi akibat kerusakan infrastruktur yang sangat parah. Kehadiran AHY menjadi simbol dukungan pemerintah pusat dalam memastikan bantuan benar-benar tiba di lokasi-lokasi yang paling membutuhkan.

Pengiriman Melalui Laut Menggunakan KRI Sutedi Senaputra–378

Misi bantuan dimulai di Pelabuhan Belawan, Medan, tempat AHY melepas keberangkatan KRI Sutedi Senaputra–378 milik TNI Angkatan Laut. Kapal ini membawa 50 ton beras yang ditujukan untuk dua pusat distribusi utama, yaitu Lhokseumawe dan Idi Rayeuk. Kedua wilayah tersebut hingga kini masih mengandalkan jalur laut sebagai satu-satunya akses logistik, mengingat berbagai jalur darat tidak dapat dilalui akibat banjir bandang dan longsor yang merusak jembatan, jalan nasional, dan sejumlah ruas vital.

KRI Sutedi Senaputra diperkirakan menempuh perjalanan selama 17–18 jam menuju Lhokseumawe, dan sekitar 5 jam tambahan untuk mengantarkan bantuan ke Idi Rayeuk. Kapal tersebut menjadi salah satu tulang punggung pengiriman bantuan dalam skala besar karena daya angkutnya mampu menjangkau wilayah pesisir yang terputus dari jalur darat.

13 Ton Bantuan Udara untuk Benermeriah

Setelah memastikan keberangkatan armada laut, AHY melanjutkan misi dengan terbang menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara dari Lanud Suwondo. Pesawat tersebut membawa 13 ton beras Bulog menuju Bandara Rembele di Kabupaten Benermeriah, salah satu wilayah yang mengalami kerusakan terparah sejak banjir dan longsor melanda pada 26 November 2025.

Benermeriah terisolasi total: lima jembatan runtuh, sejumlah jalan amblas, pasokan BBM terhenti, listrik padam, serta jaringan komunikasi lumpuh. Kondisi ini menyebabkan akses keluar masuk wilayah tersebut sepenuhnya terputus.

“Kami terkurung. Dari sepuluh kecamatan, tujuh kecamatan terisolasi. Kalau tidak lewat udara, tidak bisa keluar, kecuali jalan kaki satu hari ke Lhokseumawe atau tiga hari ke Bireuen,” ujar Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Benermeriah, Iwan Pasha, Senin, 1 Desember 2025.

Menurut Iwan dan Ketua DPRK Benermeriah, Muhammad Saleh, bantuan dari pemerintah daerah tidak dapat segera bergerak karena semua jalur distribusi rusak parah. Bantuan awal baru bisa masuk menggunakan helikopter ke kawasan transmigrasi Samarkilang, menandakan betapa terbatasnya akses menuju wilayah terdampak.

Tantangan Distribusi: Jalur Putus, SPBU Tutup, Tenaga Medis Terhambat

Kerusakan yang menyeluruh membuat proses penyaluran bantuan menghadapi berbagai kendala signifikan.
“Jalan putus total. Jalur yang kita lewati ini saja jalur alternatif yang baru dibuat. Di beberapa kecamatan kondisinya lebih parah. Tenaga kesehatan belum bisa evakuasi korban. Obat-obatan belum disalurkan. Alat berat tidak bergerak karena tidak ada bahan bakar, dan SPBU tutup semua,” kata Iwan.

Situasi ini menyebabkan operasi udara menjadi satu-satunya solusi cepat untuk mengirimkan logistik dasar, termasuk pangan, obat-obatan, dan perlengkapan darurat lainnya.

AHY: Respons Harus Cepat, Terpadu, dan Berkelanjutan

Dalam kunjungannya, AHY menekankan pentingnya respons yang cepat dan terpadu dari pemerintah pusat dan daerah. Ia memastikan bahwa seluruh bantuan dari Presiden, termasuk beras, sembako, obat-obatan, dan perlengkapan darurat, segera dikirimkan ke wilayah yang paling membutuhkan.

“Semua bantuan dari Pak Presiden untuk masyarakat yang terisolir dan membutuhkan bantuan,” ujar AHY.

Ia menambahkan bahwa bencana kali ini tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik dan psikologis warga. Karena itu, koordinasi lintas sektor menjadi kunci untuk mempercepat pemulihan.

Data Kerusakan dan Korban Bencana

Bupati Benermeriah, Tagore Abubakar, mengirim surat permohonan bantuan pangan darurat pada 28 November 2025. Status tanggap darurat ditetapkan sejak 26 November hingga 9 Desember 2025.

Menurut data BNPB per 30 November 2025:

  • 96 jiwa meninggal dunia
  • 75 orang hilang
  • Korban tersebar di 11 wilayah termasuk Benermeriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, dan lainnya
  • 62.000 kepala keluarga mengungsi
  • 177.967 jiwa terisolasi
  • Jalur utama seperti perbatasan Sumut–Aceh Tamiang serta jembatan Meureudu terputus
  • Akses Subulussalam–Aceh Selatan masih tergenang tanpa jalur alternatif

Starlink Diaktifkan, Infrastruktur Diperbaiki, dan Operasi Modifikasi Cuaca Dimulai

Pemerintah pusat mengaktifkan perangkat komunikasi darurat Starlink di lima titik: Gayolues, Aceh Tengah, Benermeriah, Lhokseumawe, dan Aceh Tamiang. Sementara itu, Kementerian PUPR mempercepat perbaikan jalur-jalur vital untuk memulihkan konektivitas antardaerah.

Bantuan Presiden berupa:

  • 28 unit Starlink
  • 28 genset
  • 20 perahu karet
  • Paket makanan dan tenda

juga mulai didistribusikan.

Dalam waktu bersamaan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cessna Caravan dilakukan untuk mengurangi potensi hujan ekstrem lanjutan. Tiga helikopter TNI dan satu helikopter tambahan dari Kualanamu dikerahkan untuk menjangkau wilayah yang masih sepenuhnya terisolasi.

Tagged:

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *