Pemprov Jabar dan KAI rencanakan KA Kilat Pajajaran 2027 dengan investasi Rp8 triliun. Layanan cepat Jakarta-Bandung 1,5 jam bersaing dengan Whoosh.
MonetaPost – Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) resmi menyepakati pengoperasian Kereta (KA) Kilat Pajajaran, layanan baru yang menargetkan waktu tempuh Jakarta-Bandung hanya 1,5 jam. Layanan ini menjadi moda transportasi tercepat kedua setelah Whoosh, yang memakan waktu sekitar 46 menit untuk rute sama.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengatakan bahwa kesepakatan ini tertuang dalam kerja sama optimalisasi perkeretaapian. Ia menambahkan, KA Kilat Pajajaran juga akan direncanakan terhubung hingga Garut, Tasikmalaya, dan Banjar dengan estimasi waktu tempuh sekitar dua hingga tiga jam melalui Bandung.
Menurut Dedi, layanan ini diharapkan menjadi solusi percepatan mobilitas warga jalur konvensional dibandingkan kereta api reguler Jakarta-Bandung, yang saat ini membutuhkan 2,5 hingga 3 jam.
Investasi Jumbo Rp8 Triliun dan Rencana Pembiayaan
Proyek KA Kilat Pajajaran diperkirakan membutuhkan investasi sebesar Rp8 triliun. Pemprov Jabar telah menyiapkan rencana pembiayaan melalui APBD senilai Rp2 triliun per tahun mulai tahun 2027 hingga 2030, sehingga pengerjaan diprediksi akan berlangsung selama empat tahun.
Dedi menekankan bahwa kabupaten atau kota yang ingin disinggahi kereta ini harus bersedia berinvestasi. Jika tidak, kereta hanya akan berhenti di Bandung saja. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan proyek sangat bergantung pada komitmen daerah dalam pembiayaan infrastruktur transportasi cepat.
Apakah KA Kilat Pajajaran Layak?
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, menilai investasi Rp8 triliun bisa masuk akal jika perencanaan dasarnya benar. Beberapa syarat penting termasuk kajian permintaan yang solid, estimasi biaya operasi dan pemeliharaan realistis, serta model tarif dan frekuensi layanan yang kompetitif dibanding moda lain.
Namun, tanpa data publik yang transparan, sulit memastikan bahwa investasi ini dapat kembali modal dari pendapatan penumpang. Tanpa pengaturan yang tepat, proyek bisa menjadi beban fiskal bagi pemerintah daerah.
Ronny juga mengingatkan risiko kanibalisme dengan layanan Whoosh. Jika segmen penumpang sama, sebagian bisa berpindah ke layanan lebih murah atau fleksibel, sehingga menggerus margin Whoosh dan menambah tekanan finansial proyek kereta cepat tersebut.
Untuk menghindari risiko ini, dibutuhkan segmentasi layanan jelas dan koordinasi tarif maupun jadwal antara KA Kilat Pajajaran dan Whoosh. Tanpa regulasi terpadu, keduanya bisa saling bersaing hingga berisiko gagal secara komersial.
Manfaat dan Risiko Sosial-Ekonomi
KA Kilat Pajajaran memiliki potensi memperkuat konektivitas antar kota, menyediakan alternatif transportasi massal cepat dan nyaman, serta mengurangi beban lalu lintas dan kemacetan di jalan tol. Namun, jika moda transportasi terlalu banyak dan saling bersaing, skala ekonomi tidak tercapai, sehingga manfaat sosial-ekonomi terbatas.
Ronny menekankan bahwa proyek bisa sukses jika dirancang dengan kolaborasi pembiayaan cerdas melalui kemitraan publik-swasta-daerah, sehingga ada pembagian risiko yang adil. Namun, jika seluruh dana berasal dari APBD tanpa jaminan manfaat ekonomi terukur, proyek ini justru dapat membebani prioritas publik lain, seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar.
Tantangan Teknis dan Kelayakan Operasional
Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai sulit untuk memangkas waktu tempuh Jakarta-Bandung menjadi 1,5 jam tanpa pembangunan terowongan baru. Jalur Cikampek-Bandung memiliki kelokan, jembatan, dan terowongan yang menambah waktu perjalanan.
Djoko menambahkan bahwa KA Kilat Pajajaran tetap bisa dioperasikan, tetapi memerlukan investasi tambahan untuk jalur lurus dan terowongan baru. Menurutnya, penggunaan APBD untuk proyek ini bukan masalah, tetapi prioritas anggaran mungkin lebih baik dialokasikan untuk perbaikan jalan desa atau reaktivasi jalur kereta di wilayah Jawa Barat Selatan, yang manfaatnya lebih terasa bagi masyarakat pedesaan.
Ia menegaskan bahwa persaingan dengan Whoosh tidak perlu dipaksakan, mengingat moda transportasi Jakarta-Bandung sudah beragam, mulai dari bus, tol, hingga kereta cepat. Fokus pada pembangunan transportasi pedesaan dan reaktivasi jalur kereta lama dianggap lebih strategis daripada sekadar bersaing dengan Whoosh.
KA Kilat Pajajaran menawarkan janji waktu tempuh cepat dan konektivitas baru di Jawa Barat. Namun, proyek dengan investasi Rp8 triliun ini memiliki risiko finansial dan teknis yang signifikan. Keberhasilan proyek tergantung pada perencanaan matang, segmentasi layanan yang jelas, koordinasi dengan moda lain, dan transparansi pendanaan.
Jika dirancang dengan cerdas dan melibatkan kemitraan publik-swasta-daerah, KA Kilat Pajajaran bisa menjadi revolusi transportasi massal. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan APBD tanpa jaminan manfaat nyata, proyek ini berpotensi menjadi beban fiskal dan mengorbankan prioritas publik lainnya.







One Comment