Rupiah melemah ke level baru akibat dolar AS menguat pasca risalah FOMC. Ini 5 faktor utama yang menekan rupiah dan respons BI.
MonetaPost – Nilai tukar rupiah kembali bergerak ke zona negatif pada penutupan perdagangan Kamis (20/11) sore. Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda berada di level Rp16.736 per dolar AS, melemah 28 poin atau 0,17 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Angka ini menegaskan bahwa tekanan eksternal masih kuat menekan pergerakan rupiah, meskipun beberapa penopang fundamental turut membantu meredam pelemahan yang lebih dalam.
Di sisi lain, kurs referensi Bank Indonesia (BI) melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menetapkan nilai rupiah di level Rp16.742 per dolar AS, hanya terpaut tipis dari level pasar spot. Kedua indikator tersebut menggambarkan bahwa sentimen negatif terhadap rupiah cukup konsisten sepanjang hari perdagangan, sejalan dengan penguatan dolar AS secara global.
Mayoritas Mata Uang Asia Juga Terkoreksi
Pelemahan rupiah bukanlah fenomena tunggal. Tren koreksi juga terjadi pada banyak mata uang di kawasan Asia. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan di pasar keuangan regional memang tengah meningkat, terutama setelah rilis risalah pertemuan The Federal Reserve yang bernada lebih hawkish.
Beberapa mata uang Asia yang turut melemah antara lain:
- Yen Jepang: turun 0,2%
- Dolar Singapura: terkoreksi 0,05%
- Ringgit Malaysia: melemah 0,21%
- Won Korea Selatan: turun 0,06%
- Peso Filipina: terkoreksi 0,22%
Menariknya, baht Thailand justru bergerak berlawanan dan mencatat penguatan tipis 0,06%. Meskipun demikian, penguatan tersebut tidak cukup mengubah peta besar bahwa mayoritas mata uang Asia sedang berada dalam tekanan akibat dominasi dolar AS.
Pelemahan bersama di kawasan menunjukkan adanya sentimen risk-off atau penghindaran risiko oleh pelaku pasar global, yang biasanya terjadi ketika dolar AS menguat signifikan dalam waktu singkat.
Pergerakan Mata Uang Negara Maju Juga Variatif
Jika melihat pergerakan mata uang negara maju, dinamika yang terjadi juga menunjukkan keragaman. Sebagian menguat terhadap dolar AS, sebagian lainnya justru melemah.
Beberapa mata uang utama yang menguat:
- Euro: naik 0,16%
- Dolar Kanada: menguat 0,03%
Namun, beberapa mata uang lainnya melemah, seperti:
- Dolar Australia: turun 0,03%
- Franc Swiss: melemah 0,06%
Variasi pergerakan mata uang negara maju ini memperlihatkan bahwa pasar global sedang berada dalam fase ketidakpastian, di mana respons terhadap kebijakan moneter AS tidak bergerak seragam, meski dolar tetap memegang keunggulan relatif.
Risalah FOMC Bernada Hawkish Mengangkat Dolar AS
Salah satu faktor utama di balik tekanan terhadap rupiah adalah penguatan dolar AS pasca dirilisnya risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan nada hawkish. Nada hawkish di sini berarti The Fed menilai masih ada potensi untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut jika tekanan inflasi belum mereda.
Menurut Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, risalah FOMC tersebut langsung memicu penguatan dolar dan mendorong aksi beli pada aset-aset berbasis dolar.
“Rupiah gagal membendung penguatan dolar AS pasca risalah FOMC yang cenderung hawkish atau membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut,” jelas Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Ia menambahkan bahwa pelaku pasar kembali meningkatkan portofolio dolar sebagai bentuk lindung nilai terhadap risiko, sehingga mendorong pelemahan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah. Ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama juga memperburuk tekanan pada mata uang kawasan.
Kebijakan BI dan Surplus Transaksi Berjalan Menjadi Penyangga
Meskipun rupiah tertekan, analis menilai bahwa pelemahan yang terjadi tidak terlalu dalam berkat dua faktor penyangga penting:
- Kebijakan BI mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi, yang membantu menjaga daya tarik aset rupiah di mata investor.
- Surplus besar pada neraca transaksi berjalan, yang menunjukkan kondisi eksternal Indonesia masih cukup solid.
“Kebijakan BI mempertahankan suku bunga serta surplus transaksi berjalan memberi sedikit bantalan bagi rupiah,” jelas Lukman.
Dengan kondisi tersebut, dampak pelemahan rupiah dapat ditekan sehingga penurunan tidak terlalu tajam. Stabilitas transaksi berjalan juga menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia terhadap volatilitas global.
Sentimen Pasar Masih Berada di Tengah Ketidakpastian Global
Melihat perkembangan terakhir, sentimen pasar diperkirakan masih akan fluktuatif dalam waktu dekat. Investor akan terus memonitor:
- Data inflasi AS
- Komentar pejabat The Fed
- Prospek kebijakan suku bunga global
- Tren aliran modal ke emerging markets
Selama dolar AS mempertahankan momentum penguatannya, rupiah kemungkinan masih bergerak dalam kisaran tekanan yang cukup kuat. Namun dukungan dari BI, stabilitas sektor eksternal, dan kebijakan fiskal yang terjaga diharapkan dapat membantu menjaga pergerakan rupiah agar tidak terpuruk lebih jauh.







One Comment