Home / Ekonomi / Rupiah Tertekan di Level 16.766

Rupiah Tertekan di Level 16.766

tekan

Nilai tukar rupiah tertekan di level Rp16.766 per dolar AS. Penguatan dolar AS dan sikap wait and see investor menahan pergerakan rupiah.

MonetaPost – Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah pada perdagangan pagi ini. Mata uang Garuda berada di level Rp16.766 per dolar Amerika Serikat, mencerminkan tekanan yang masih berlanjut di pasar valuta asing. Pelemahan ini terjadi seiring rebound dolar AS yang dipicu pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat bank sentral AS.

Pergerakan rupiah pada awal perdagangan mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar yang masih mencermati dinamika global dan domestik. Meski pelemahan terbilang terbatas, sentimen eksternal tetap menjadi faktor dominan dalam menentukan arah pergerakan mata uang negara berkembang.

Rupiah Dibuka Melemah Tipis

Pada pembukaan perdagangan pasar spot, rupiah tercatat turun sekitar 8 poin atau setara 0,05 persen. Pergerakan ini menandai lanjutan tekanan yang muncul setelah dolar AS kembali menguat di pasar global.

Tekanan dari Dolar AS

Penguatan dolar AS terjadi setelah pernyataan pejabat The Federal Reserve yang menegaskan komitmen untuk menjaga kebijakan moneter tetap ketat. Sikap tersebut memunculkan ekspektasi bahwa penurunan suku bunga belum akan dilakukan dalam waktu dekat.

Kondisi ini membuat aset berdenominasi dolar AS kembali diminati, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan. Investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter.

Mata Uang Asia Kompak Melemah

Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Sejumlah mata uang Asia juga menunjukkan pelemahan pada perdagangan pagi ini, mencerminkan sentimen regional yang cenderung negatif.

Pergerakan Regional

Peso Filipina tercatat melemah paling dalam di antara mata uang Asia dengan penurunan sekitar 0,15 persen. Baht Thailand turun 0,09 persen, sementara won Korea Selatan melemah 0,07 persen. Dolar Singapura dan yen Jepang juga berada di zona merah dengan pelemahan tipis.

Pelemahan serentak ini menunjukkan bahwa faktor eksternal, khususnya penguatan dolar AS, menjadi penekan utama pergerakan mata uang Asia. Investor regional cenderung bersikap defensif sambil menunggu kepastian arah ekonomi global.

Mata Uang Negara Maju Bervariasi

Berbeda dengan mata uang Asia yang mayoritas melemah, pergerakan mata uang negara maju menunjukkan arah yang lebih beragam.

Euro dan Dolar Australia

Euro Eropa dan franc Swiss tercatat melemah tipis, masing-masing sekitar 0,02 persen dan 0,01 persen. Di sisi lain, dolar Australia justru menguat sekitar 0,09 persen, sementara dolar Kanada bergerak stagnan.

Perbedaan arah ini mencerminkan adanya faktor domestik yang memengaruhi masing-masing mata uang, seperti prospek ekonomi, data inflasi, serta kebijakan bank sentral di negara terkait.

Sikap Wait and See Investor

Analis pasar menilai pelemahan rupiah masih tergolong terbatas dan belum menunjukkan tekanan ekstrem. Namun, kehati-hatian investor tetap tinggi menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting.

Menanti Data Ekonomi

Pelaku pasar global saat ini bersikap wait and see sambil mengantisipasi data ekonomi utama dari Amerika Serikat dan Indonesia. Data inflasi, ketenagakerjaan, serta indikator pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan memberikan arah baru bagi pasar keuangan.

Ketidakpastian terkait waktu penurunan suku bunga AS membuat investor enggan mengambil posisi agresif. Kondisi ini turut membatasi ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.

Perkiraan Pergerakan Rupiah Hari Ini

Meski dibuka melemah, rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif sepanjang hari. Tekanan dari dolar AS kemungkinan tetap terasa, namun faktor domestik dapat menjadi penahan pelemahan lebih lanjut.

Rentang Perdagangan

Analis memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Rentang tersebut mencerminkan keseimbangan antara tekanan eksternal dan ekspektasi stabilitas makroekonomi domestik.

Stabilitas inflasi, kebijakan fiskal yang terjaga, serta intervensi bank sentral berpotensi membantu menjaga volatilitas rupiah agar tetap terkendali.

Prospek Jangka Pendek

Ke depan, arah pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Selama dolar AS bertahan kuat dan ekspektasi kebijakan moneter AS tetap ketat, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum sepenuhnya mereda.

Namun, dengan fundamental ekonomi domestik yang relatif solid, rupiah dinilai masih memiliki daya tahan. Pelaku pasar akan terus mencermati kombinasi faktor global dan domestik untuk menentukan langkah selanjutnya di pasar valuta asing.

Tagged:

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *